Arca Angina #3

“Berilah aku lanskap, Arca. Aku tak ingin jadi asap,” pinta Elang.

Tapi Arca dan lelaki hujan justru semakin dekat. Saling rapat. Saat gerimis bersimpuh di tepi jendela. Saat Elang tengah mengurai gelisah. Mereka berciuman, begitu mesra. Hujan mencumbuinya, hingga basah. Melumatnya. Lamat-lamat. Menyentuh tubuhnya, dengan bahagia. Dan, tak ada lagi yang ingin bicara soal luka.

“Gilang.”

“Ya, Arca.”

“Semakin hari, hati ini semakin nyata. Rasa ini semakin terasa. Tapi aku tak dapat menyentuhnya. Haruskah ini aku hentikan?” tanya Arca.

“Jangan!” jawab Gilang, cepat.

 

“Aku takut kehilangan kamu. Takdir kita tidak bersisihan.”

 

“Selama kita bisa menjaganya, semua akan baik-baik saja, Arca.”

“Ya. Kita harus menjaganya,” ucap Arca gundah.

“Arca.”

"Ya.”

“Kamu baik. Aku tak mau merusak itu. Aku akan jaga kamu.”

“Kamu juga baik, Gilang,” ucap Arca, “aku akan ikuti kamu.”

“Aku baik apa?” tanya Gilang balik. “Aku tak pernah beri kamu apa-apa. Waktu saja rasanya begitu sulit.”

“Jangan menyalahkan waktu. Jalan hidup kita saja sudah berbeda. Aku di sini. Kamu di sana.”

Diam-diam Arca memalingkan wajah dukanya.

“Aku suka berpikir, untuk apa kita bertemu?”

“Menurutmu, untuk apa?” tanya Gilang.

“Entah Tuhan sayang atau tengah menghukumku.”

“Atas dasar apa Tuhan menghukum kamu, Arca?”

“Aku bukan anak yang baik.”

“Apakah kamu juga bagian hukuman Tuhan untukku?”

Hujan mendekat. Kembali melontarkan daun-daun ke jalanan. Perlahan mereka menyatu. Arca, diam-diam, memejamkan mata. Membiarkan lelakinya bersibuk membasahi bibirnya, hingga penuh semburat warna senja.

“Gilang,” Arca mendesis.

“Jangan berucap lagi, Arca. Biarkan yang maya tak hanya jadi mimpi. Ucapkan dalam hati, kelak akan menjadi nyata, ada di antara kedua pijakan kaki kita.”

Dan, mereka terus berdansa hingga malam semakin tua.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA