Arca Angina #4

Arca mengenal baik pedih itu. Saat rindu-rindu mulai menimbun. Saat perih tak lagi bersembunyi. Dari jauh terbaca sepi, membuncah dalam bentuk puisi. Saat banyak pertanyaan akan hati kasmaran. Seperti juga, saat tak ada yang ingin bicara soal bahagia. Semuanya diam tak terbaca, lalu membatu bersama dengan waktu.

Ya! Arca tlah jatuh cinta.

Tapi, ia menderita, dan memilih berlari, sementara isi hati belum juga habis terbagi.

Gilang pun mencari Arca di pojok dunia, pada sebuah kotak maya, dan mengajaknya bicara.

“Arca, belum pulang, kan?” tanya Gilang.

“Belum,” jawab Arca enggan.

 

“Sejak kapan senang sembunyi?”

“Baru mencoba.”

“Arca.”

“Ya.”

“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Gilang risau.

“Baik,” jawab Arca singkat.

“Syukurlah.”

Hening.

“Kamu benar-benar tidak mau menelepon aku lagi, Arca?”

“Tidak.”

“Tidak juga mau berkirim pesan singkat?”

“Tidak.”

Gilang terdiam. Ada risau di hati. Begitu gundah. Akan perasaan tak terbalas. Dan, pecah.

“Teruslah bersembunyi, agar aku tak merasa kamu ada.”

Senja turun perlahan. Langit menjadi begitu kelabu. Terasa muram. Gilang pergi. Entah asap atau kabut berhasil mengelabuinya. Angin sunyi tlah meraja dan memburu senja pulang ke peraduan. Abu tipis beterbangan. Melayang di udara. Berserakan. Ada sepi menisik senja menjadi nyeri. Perih. Pedih.

Dan, Arca mulai terbunuh oleh rindunya sendiri.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA