Arca Angina #5

Dari jauh tlah terbaca sepimu. Menghitam. Berwarna penderitaan. Dari balik kabut tercium aroma senja yang tlah menjadi nyeri. Denting sepimu tlah meraja. Hanya gelap yang terbaca.

Engkaukah itu, Arca, sekelebat bayang dengan kepak sayap anggun terbang dalam diam?

 

“Apa yang terjadi padamu, Arca?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Berceritalah.”

Arca menghela napas. Ada getar pedih terasa di dada.

 

“Hanya tentang sebelah hati yang terbawa pergi.”

 

“Jika saat ini hatimu terluka, bahkan terasa hancur sekalipun, biarkan jadi senyap. Kesunyian jika dihayati bisa jadi terasa indah.”

“Kata-katamu menusuk sepi. Aku makin tersiksa. Sungguh menderita. Akankah ia kembali?”

“Sejak dulu isi dunia hanya kesementaraan. Tak ada yang abadi. Pertemuan dan perpisahan terjadi sepanjang masa. Dan semua, menjadi kejadian yang kesekian.”

Arca terdiam. Menggigil dalam sepi yang menggenang.

“Akan kucoba biarkan senyap. Mengendap. Berharap suatu hari menjadi khidmat.”

“Duduklah di sampingku, Arca. Akan kutemani dalam gelap. Merenda serpihan sayapmu yang tlah rengat.”

 

Mata Arca menggelap. Hitam tak tertawarkan. Ia menjelma kupu yang terkulai layu. Kupu dengan sayap terkoyak. Patah. Tak bergerak. Hanya bisu di sekelilingnya. Hingga ada yang datang dari kegelapan. Dia yang datang dari berabad-abad cerita tentang kesepian. Menuntunnya keluar dari kematian yang belum datang.

Ada matahari datang membawa janji.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA