Arca Angina #6

“Selamat pagi, Arca. Apa kabar?” Rawi menyapa.

“Baik.”

“Benar?”

“Benar,” jawab Arca, tersenyum, walau terlihat sedikit kaku.

“Tidak ada kabar. Tidak pula membalas pesanku. Aku yakin ada sesuatu yang melukaimu. Kenapa belum juga mau berbagi kisah?”

Arca diam. Hanya bisa menunduk lesu. Terbisu.

 

“Aku temani kamu minum kopi di Daily Bread, mau?”

 

Arca mengangguk. Setuju. “Tapi, nanti, tunggu aku perbaiki dulu hati ini.”

“Baiklah, Arca.” Rawi tak mau memaksa.

“Aku ingin diam sejenak. Berikanlah aku ruang dan waktu untuk sendiri.”

“Lekaslah menulis lagi, Arca. Aku suka semua tulisan romantismu. Tentang rindu yang menimbun. Tentang perih yang tersembunyi.”

“Aku pasti akan segera pulih dan menulis kembali.”

“Jangan lupa makan siang.” Rawi mengingatkan.

“Iya. Terima kasih.”

Mata Arca membasah. Teringat dengan kebiasaan kecil yang kerap ia lakukan bersama Gilang, saling mengingatkan soal makan siang. Arca menghela napas. Semua masih terlintas dalam bayangan, begitu membekas.

Mengetahui mata Arca membasah, Rawi memeluk Arca.

“Ia pasti seorang yang istimewa. Ia membagi napasnya hingga membentuk duniamu sempurna. Ia pasti berbicara dengan bahasa hati yang sama. Ia dapat menerjemahkan langit, hingga batinmu membara bersamanya.”

“Bukan. Bukan itu.” Arca melepaskan diri dari pelukan.

“Tapi setengah hatimu terbawa pergi olehnya?”

Arca terdiam.

“Berkesahlah, Arca!”

“Dia seorang yang dapat buatku nyaman.”

“Itu saja?” tanya Rawi tak puas.

“Aku jatuh cinta dan tak bisa kusampaikan padanya. Sebab, aku takut bila ia terpasung. Aku takut kehilangan dirinya. Dan, aku takut……” Arca tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya.

“Hem…”

“Aku harus keluar dari perasaan ini,” ucap Arca gelisah.

Senja mulai mencuri pandang. Langit berubah menjadi begitu jingga. Matahari pergi meninggalkan Arca seorang diri. Memberinya ruang dan waktu untuk menyendiri. Arca memilih duduk di bangku taman. Di antara lalu-lalang manusia yang berjalan. Ia melamun. Mencuri kenangan di antara semburat jingga yang sebentar lagi akan tertelan pekatnya malam.

“Biarkan aku memasuki relung hatimu yang sedang patah, Arca. Kelak kau akan bertemu dengan sayap-sayapmu yang baru. Ah, Arca, yang hatinya sedang pecah. Berikan padaku hatimu. Biar aku bantu punguti serpihannya dan menjadikannya debu dalam hitungan waktu.” Bisik Rawi sebelum tadi ia pergi.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA