Di Lengkung Alis Matamu

Kamis siang. Hujan. Perempuan tak tenang, menunggu lelakinya datang. Tak lama, hujan reda. Angin berhembus perlahan. Daun pun tak lagi  riuh bergoyang. Mendung berganti cerah. Hangat.

Akhir bulan Mei dan mereka bertemu untuk yang ketiga kali.

“Apa yang kamu bawa hari ini?” tanya perempuan.

“Coba tebak?”

Perempuan tersenyum. Ia terpesona menatap sesuatu yang dibawa oleh lelakinya.

“Aih, indah sekali.”

Garis yang indah. Tertata rapi. Hitam pekat, dengan ketebalan yang alami. Melengkung sempurna seperti jemari penari. Benar-benar lengkung alis yang menarik hati.

“Lalu, apa yang kamu bawa untukku?” tanya si lelaki.

Si perempuan mengambil sesuatu, dan menyerahkannya dengan agak ragu.

“Semoga kamu suka.”

Tentang dunia yang belum pernah perempuan lihat. Tentang tempat-tempat yang indah. Jauh. Tak terjangkau. Tentang gunung, kota dan penghuninya yang beragam. Tentang museum, bangunan tua dengan sisa-sisa kecantikannya.

“Bacalah,” pinta si perempuan.

Dan si lelaki menerimanya dengan penuh guratan tanda tanya.

“Wow!” si lelaki takjub, setelah tahu apa yang ia dapat.

Akhir Mei yang menyenangkan. Mereka berbincang. Tersenyum. Tertawa. Ada rindu yang tertabur. Ada rasa yang mulai melebur.

“Senang bertemu denganmu,” ucap perempuan.

“Kenapa?” tanya lelaki.

“Begitu nyaman dan menenangkan.”

Mereka berpisah dengan jabatan tangan yang kian erat, dan diiringi oleh hujan yang kembali melebat. Kisah ini akan terus bergulir. Tak pernah usai. Percayalah!*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA