Gula Perindu

“Dan kamu, indah. Seperti biasa, tidak berubah,” ucap si lelaki pada perempuannya.

”Kamu pun masih sama, sederhana. Aku suka,” balas si perempuan tak mau kalah.

Di luar mendung. Langit begitu kelabu. Hujan baru saja usai, tapi tetesannya masih menyisa di etalase kaca sebuah kedai. Hari itu mereka bertemu untuk yang kedua kali, tanpa disutradarai.

Kali ini si perempuan tak lagi malu-malu seperti lalu. Begitu juga si lelaki, terlihat tenang dengan segelas kopi panas dalam genggaman. Harum kopi menguar. Pada sebuah meja bundar mereka duduk saling hadap, begitu akrab.

“Apa yang kamu bawa di dalam sana?” tanya si perempuan.

“Di mana?”

“Di kantung sakumu.”

Si lelaki kebingungan sambil melihat isi kantung saku bajunya.

“Tiket kunjungan cintakah?” tanya si perempuan, sambil mengerling nakal.

Si lelaki tertawa.

“Kunjungan cinta tlah usai. Tapi aku punya banyak tawa dan cinta di dalam sana,” ucap si lelaki balas menggoda perempuannya.

Tak berani berucap. Bibir si perempuan pun terkunci rapat. Tangannya sibuk memutar cangkir yang masih berisi penuh teh panas tawar. Roti isi di hadapannya pun masih utuh, belum tersentuh. Ada senyuman malu-malu, bersembuyi di antara gula-gula perindu.

Lamat-lamat si lelaki menatap perempuannya. Lekat.

Tiba-tiba wajah perempuannya mendekat, hingga berjarak satu jengkal.

”Ambil mataku, simpan, ikat dalam diammu,” bisik si perempuan tanpa ragu.

Di antara suara riuh pengunjung kedai yang tengah bermain halma, asap rokok dan udara panas, ada tatapan rindu lelaki yang membingkai habis bola mata perempuannya.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA