Keka #1

“Ka, kamu berubah!”

“What?” Mata Keka yang bulat melebar seketika.

“Ya-ya-ya, gue tau kok! Gue banyak makan belakangan ini,” wajah Keka lesu.

“Bukan, Ka, bukan itu!”

“Jadi?”

“Nantilah saya kasih tau,” jawab Aby, masih dengan tatapan tak percayanya. “Kita jalan dulu.”

“Memangnya kita mau ke mana?”

“Seperti biasa, cari bulan.” Mata Aby mengedip.

Keka tersenyum. Aby menyerahkan helm dan mereka pun melaju, menghilang, di antara padatnya jalan Jakarta.

Taman tengah kota. Jam 7 malam.

“Kamu berubah dan terlihat lebih buruk. What’s wrong, Ka?”

Aby menawarkan rokok. Menyalakan api untuk Keka.

”Ah, lo berlebihan banget.”

“Come on! Look at your face! Look at your eyes!! Look at your smile!!!”

“Kenapa emangnya sama muka gue?” tanya Keka sambil memainkan rokoknya di tangan.

“Datar!”

“Yeah well, people change. Everything change.”

“Kenapa sih kamu masih saja tertutup?”

“…………dan, menjaga jarak,” ucap Aby pelan.

“Emangnya gue kayak gitu?”

“Nah, kamu tidak berubah untuk yang satu itu. Tidak pernah mau menjawabnya.”

Keka tertawa.

“Dan satu lagi, By. Tiap kali gue patah, gue pasti nyari lo. Itu juga tidak berubah, kan?” Keka menambahkan.

“Ha-ha, bukannya kamu yang selalu bikin orang patah?”

…………

“Termasuk kamu pernah mematahkan saya juga, Ka,” ucap Aby sendu.

“Sorry. Ga sengaja, By!” jawab Keka seenaknya.

“Siapa yang sudah berhasil membuatmu patah, Ka?”

Keka terdiam. Ia membetulkan posisi duduknya. Masih tetap bersila. Tangannya meraih sebotol air mineral dingin. Meminumnya. Kopi sudah tandas dan gelasnya sudah berubah fungsi menjadi asbak. Dan tetap diam, tak mau menjawab.

“Kamu juga luar biasa, Ka.”

“Ah, tau apa lo soal gue?” Suara Keka berubah sinis, tangannya meraih sebatang rokok lagi.

“Ka, cukup! Jangan merokok lagi, nanti kamu batuk.”

Keka mendadak gugup. Tangannya gemetar. Bibirnya juga gemetar.

“Saya memang tidak tahu banyak soal kamu. Selama ini saya hanya mengikuti jejak-jejak yang kamu buat, dari gambar, dari tulisan-tulisan bagusmu, yang selalu bikin saya lumpuh tiap kali usai membacanya.”

Keka menghela napas.

“Kamu tidak pernah mengeluh, Ka. Itu yang luar biasa dari kamu.”

Terkejut. Keka memandang Aby. Tapi pikirannya melayang pada seseorang yang pernah mengatakan hal serupa. Seseorang yang tlah merawat dan menjaganya dengan baik, sekaligus membuatnya patah.

“Gue takut, By!” ucap Keka pelan. Matanya memanas.

Tangan Keka gemetar, kembali meraih rokok, dan dengan tergesa memantik api. Aby diam. Tak melarangnya.

“Gue sendirian sekarang.”

Dan air mata Keka pun pecah. Tumpah. Mengalir lembut. Pandangannya pun berkabut.

Keka menyalakan lagi sebatang rokok dan menghirupnya dalam-dalam. Menyuplai nikotin ke dalam paru-paru sebanyak yang ia bisa. Mencoba untuk santai, Keka membaringkan tubuhnya di atas rumput yang tlah lunglai. Menatap, menikmati langit malam dalam diam.

“Ka, saya bacakan sesuatu, mau?”

“Apa?”

Lantas tangan Aby sibuk menyentuh layar ponselnya.

“Kemarin saya ke Bandung. Saya sempat motret seorang Bapak tengah menyuapi anaknya makan. Saya menulis sedikit.”

Keka mengusap matanya yang lelah karena basah.

Aby mulai membacakan beberapa tulisannya.

Keka menghela napas. Merasa bersalah. Sebab tak mendengar apa yang tlah Aby bacakan untuknya. Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

“By, kita pulang, yuk?” pinta Keka.

“Benar sudah mau pulang?”

“Sudah larut. Kita sama-sama punya keluarga yang menunggu kita di rumah. Jangan buat mereka cemas.”

“Ka…”

“Hmm?”

“Terbanglah lagi. Tempatmu di langit, untuk diburu mimpi-mimpi.”

Keka tersenyum.

“Tetap tenang, ya, Ka?”

“Ya.”

“Promise?”

“Serius banget sih lo, Nyet?” Keka tertawa.

Diam dalam gelap. Itulah yang saya lakukan sejak kamu pergi. Dingin. Itu yang saya rasakan saat ini. Ada sesuatu yang hilang. Ditarik dengan paksa. Dipisahkan. Ada bagian diri saya yang ikut pergi berjalan bersama kamu. Dan itu sakit!

Keka menutup catatan hariannya.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA