Keka #10

Matahari menggantung rendah di ujung dermaga. Seekor burung terbang rendah. Indah. Warnanya mengilap bagai mutiara. Aku memerhatikannya dalam sisa-sisa terakhir cahaya senja. Sementara ia tak pernah berhenti memandangku dari balik lensa.

”Kenangan bersama siapa yang paling indah dari masa lalumu?”

“Tidak ada."

“Tidak ada?”

“Tidak ada,” jawabku tanpa berpikir lama.

 

Ia masih berdiri dengan penuh kepercayaan diri. Sejenak ia diam. Berpikir. Lalu ia bertanya lagi, tapi kali ini dengan perlahan, sampai aku harus bersusah payah untuk mendengar suaranya.

 

“Bagaimana dengan yang terakhir?”

Aku menundukan kepala, berusaha tersenyum manis.

“Terluka dan marah.”

“Hanya itu yang bisa aku ingat dari kisahku yang terakhir. Tak mungkin aku lupa pada bagian anak panah yang patah. Aku akan membawanya dengan hati-hati, dan tak pernah mau menyentuhnya lagi.”

Ia terdiam.

Aku tak bisa menceritakan seluruh kepedihanku, yang pernah datang di suatu saat dalam proses pendewasaan diri. Bahwa aku pernah menjadi orang-orang yang terluka, harus menjalani hidup sendiri dengan duka sendiri.

Saat itulah aku memerhatikannya, hanya duduk dan memandang ke samudra. Matanya menyipit menentang cahaya silau keemasan senja. Dan, aku melihat ia pun enggan menggali kisahku lagi.

Bersamaan, aku melihat ibu dan anak laki-lakinya tak jauh dari kami. Sesuatu yang buatku terpaku di tempat dudukku, ketika siku ibunya menyentuh siku dan menyandarkan kepala pada lengan anak laki-lakinya. Sampai tak ada jarak di antara mereka berdua. Begitu mesra. Apakah mereka terikat oleh ikatan darah atau kedekatan yang paling menyakitkan?

”Cukup tentang masa lalu,” kataku dengan senyuman tegas.

”Bagaimana dengan aku?” tanyanya.

“Ada apa denganmu?” tanyaku heran.

“Apakah nanti kamu juga akan melupakan semua kenangan bersamaku?”

Kubiarkan pertanyaannya membalut kemilau matahari senja yang semakin menebal. Matanya yang dalam tampak memohon sebuah jawaban, tetapi di dalamnya juga terbaca keinginan.

Aku masih memikirkan jawabanku. Apa yang ingin aku katakan dan apa yang semestinya kukatakan. Tampak ragu tapi berani, ia meremas tanganku. Ada rasa menusuk-nusuk seperti jarum di tengah dadaku.

”Mungkin nanti kamu akan melupakan semua kenangan bersamaku dalam hitungan detik. Tapi aku tidak.” Ia berkata tanpa ragu.

Ada sepercik kesedihan mendengarnya, begitu halus, menyelubungi hati.

Aku bergerak mendekat, menyandarkan kepalaku ke bahunya.

Aku ingin sekali bercerita banyak padanya, selain kisahku dipenuhi dengan luka dan duka, betapa aku merasa nyaman ketika pergi bersamanya. Bagaimana saat kami bercanda, aku tlah mengeluarkan sedikit kepedihan dari dalam hati, meski tidak untuk disimpan atau dipahami, atau berharap bisa disembuhkan.

Tapi aku sendiri merasa belum siap untuk mengatakan itu.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA