Keka #11

Aku menyangka akan berbaring di tempat tidur tanpa memejamkan mata. Hal biasa, terjaga, karena khawatir dan gelisah. Tapi kali ini tidurku begitu manis.

Aku menyambut mimpi.

Dermaga yang tadi siang kita kunjungi kelihatan sangat panjang. Airnya menghitam. Gelap. Ada rasa berat dalam dada dan napasku menjadi sesak. Ada rasa cemas, takut tak bisa meraih ujung dermaga. Apakah itu pertanda beban di hati?

Tiba-tiba, tanpa diduga, rasa rindu datang.

Apakah?

Tanda tanya itu hadir lagi.

Ini belum saatnya, ucapku sambil berdiri di tepi laut yang hitam bagai tinta.

Ada suara datang dari segala arah. Sebaiknya kamu menjalani kehidupan penuh cinta, bukan luka yang hanya akan mendatangkan lebih banyak lagi derita.

Lantas, aku terbangun. Baru jam tiga pagi.

Aku kembali menyentuh bantal, hendak menyambut mimpiku yang lain.

Tiba-tiba jantungku berdebar. Melambat.

Ia datang lagi padaku. Ia datang dengan cahaya bernuansa lembayung pantai.

Apa yang kamu cari dalam mimpiku?

Ingin kuusir tapi aku tak mampu.

Baru separuh jalan aku melepaskannya pergi. Kuturunkan namanya ke dalam air. Melepaskannya.

Namanya tenggelam perlahan dan akhirnya lenyap. Aku mengembuskan napas. Lega.

Sebelum aku berpaling untuk melangkah kembali ke jalan pulang, ada bunyi desis dari dalam air.

Mulailah dengan hidupku. Ambillah aku dulu.

Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari perempuan resah seperti aku?*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA