Keka #12

Belakangan ini, dia datang pada saat tak terduga.

Seperti tadi malam, misalnya.

Dia datang kembali masuk dalam mimpi. Suara hadirnya seperti angin berbisik di antara pasir, begitu halus dan tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depanku tanpa permisi.

Dalam mimpi - dia sudah beberapa kali masuk ke dalam mimpiku - dia mengangkat wajahku dan memandangiku utuh.

Seperti seekor capung menukik turun, dia mencium bibirku.

Aku tak membalas. Aku tak juga menolaknya.

Dan malam ini aku terjaga lama, hingga lewat tengah malam. Khawatir memimpikannya lagi. Aku sengaja menatap banyak gambar, bayangan, tapi akhirnya aku meresah dan kebingungan sendiri.

Mestinya aku bisa mengulang mengurutkannya kembali. Mungkin setelah itu aku baru bisa mengerti, dan akan muncul sebuah keteraturan dari semua keacakan ini. Mungkin aku tak perlu sesiapa, hanya aku sendiri dan atau ditambah secangkir kopi.

Mungkin, mungkin…

Tapi, aku malah mencari dan menanyakan kapan dia kembali.

Di dalam mimpi?

Aku menutup kepala dengan bantal. Di bawah bantal aku mencoba mengingat seraut wajah lain.

Aku mengucapkan sebuah nama. Bong.

Namamu kini tak ada dalam mimpiku. Ada banyak mimpi namun kau tak pernah ada di sana.

Di bawah bantal terasa pengap. Aku kehabisan napas.

Bong, aku bertemu seseorang.

Aku menghela napas panjang. Aku mencintaimu, Bong.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA