Keka #13

Aku dan dia duduk di meja pojok menghadap jendela.

Kami memesan kopi yang sama.

“Terima kasih sudah mau datang membantuku,” ucapku sopan.

Dia membalasnya dengan senyuman. “Untuk itulah aku datang padamu.”

Aku menatapnya. Matanya.

Mataku mengerjap. Aku mengalihkan pandangan. Belum saatnya aku berkaca dalam matanya. Aku takut menemukan mataku ada di dalam sana.

“Kamu terlalu tegak sendiri,” ucapnya.

Aku menatap cangkir kopiku. Asap tipisnya bergelung naik. Aku membauinya dengan perasaan senang. Tak ada aroma lain yang bisa menandingi.

“Kau berkabut sendiri. Mengapa? Begitu takutkah kau dimasuki?”

Kata-katanya seperti sihir yang tengah mencari letak hatiku.

“Bagaimana bila ada yang berhasil membukamu?”

“Membuka apa?” tanyaku balik.

Sebelum dia menuntaskan jawabannya, aku memburunya lagi dengan pertanyaan yang menggoda.

“Membuka bibirku agar kalian bisa menciumku?”

“Seperti ini?” tanyaku.

Tanpa ragu aku memiringkan wajah, mendekatkan ke sisinya. Dengan penuh percaya diri aku memejamkan mata. Beberapa saat kata-kata itu menggantung di udara, halus dan bersayap, bagai umpan pancingan.

Lantas bibirnya datang menyentuh bibirku dengan gairah, dan membuat bibirku basah seketika.

Buru-buru aku menarik bibirku. Menjauh.

Aku terdiam.

Aku tak ingin jatuh cinta padanya.*

 

Comments 

 
# Ade Sinuhaji 2012-07-17 01:33
Luar biasa :) terbawa saya ..
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Joko Q Wibowo 2012-10-04 07:17
Keka, nama ini begitu lekat di hati.
Reply | Reply with quote | Quote
 
Dokumentasi
Powered by mod LCA