Keka #2

Hari ini aku berniat melebarkan sayapku. Sudah memutuskan tali-tali pengikatnya. Aku ingin keluar, ke ruang-ruang tak terhingga di dunia luar.

Ini agak menakutkan.

Maka aku memanggilmu.

Kutunggu lama sekali, tapi kamu tak menjawab.

“Ah, Keka, apa yang kamu harapkan?” kata suara dalam benakku.

Pedih.

“Apakah selalu seperti ini kalau kita melakukan hal terlarang?”

Di luar hujan deras. Dingin. Aku tinggal sendirian. Menunduk kaku di mejaku. Gemetar tanganku. Sambil bertanya-tanya cemas, apa yang salah? Bertanya sendiri berulang-ulang. Apakah karena aku? Apakah? Atau, pertanyaan lain yang begitu meluluhkan sehingga aku hanya mampu tercekat. Apakah ini? Cara. Yang kamu pilih. Agar. Membuatku mati.

Aku berjalan pulang. Dengan yakin, aku melangkah melintasi jalan raya yang padat. Menerobos hujan. Tak perlu membuka payung. Biar saja basah. Aku tidak takut. Sampai sebuah pintu terbuka mengundangku masuk.

Di dalam bus yang sesak dan berbau, aku mengancingkan mantel hitamku. Hangat. Lagu-lagu dari iPod mengendurkan otot-ototku seketika. Di luar, jalanan padat merayap. Bau asap menyerbu. Pembauran yang sempurna.

“Silakan duduk,” kata pria di sampingku.

“Terima kasih.” Lantas aku bergerak. Duduk di samping jendela.

“Suka mendengar lagu?” Suaranya terbata-bata.

Aku mengangguk. Sementara matanya keras menyerbuku.

“Takdirmu lahir bersamamu. Ditanam dalam tanggal dan hari kelahiranmu.”

Alisku berkerut.

“Apa katamu?”

Tiba-tiba angin panas berjatuhan di sekitar kami berdua.

“Siapa namamu?”

“Sendu,” jawabku asal.

Ia mencoba menyembunyikan seyumannya, tapi aku bisa melihatnya. Ia senang dengan jawabanku.

“Kau gadis yang cerdas.” Matanya kembali serius.

Kini aku yang tersenyum lepas.

“Kau ragu? Dekatkan wajahmu. Akan aku katakan padamu, aku merapal mantra. Mantra pembawa duka yang tiba kala senja.”

”Tentu,” jawabnya singkat.

“Kau jauh lebih pintar dariku.”

Mendadak ia memandang langsung mataku. Matanya gelap. Bagai danau mati dan wajahku tenggelam di dalamnya. Sekarang ia memerhatikan diriku lebih cermat.

“Baiklah. Aku tidak peduli. Perasaanku tentang dirimu baik.”

“Terima kasih,” kataku sambil berdiri.

“Tunggu!” Matanya bersinar nakal. “Kau mengucapkan jampi-jampi untukku, ya?”

Ada getaran dalam diriku. Desiran yang bersayap. Sepanjang perjalanan pulang, entah kenapa, aku merasa pundakku membara.

“Jampi-jampinya ada di dalam hatimu,” tukasku.

“Sendu, tunggu!”

“Apa?” Aku berhenti.

“Pergilah menari. Ikuti iramanya. Atau, berlarilah lagi. Seperti kemarin, di antara hujan dan langkah kaki seorang teman. Seharusnya kamu tertawa. Seharusnya tak lagi ada air mata.”

Aku tergugu.

“Dan, lepaskan apa yang bukan milikmu.”

Sebelum turun, ia menyelipkan sesuatu ke dalam tanganku.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA