Keka #3

Di luar, senja mulai merekah bagai jeruk yang dibelah. Lembut dan manis.

Tiba-tiba pertanyaan itu datang lagi.

“Aku ingin bertanya, maukah kau ikut bersamaku ke kota besok? Tolong bilang ya.”

Dan, kembali perasaan senang Keka hadir.

Setengah malu-malu Keka menjawab, “Baiklah.” Jauh di dalam lubuk hati, ada harapan dan egois menyatu.

Matahari menggantung rendah. Berkas cahayanya menebal keemasan. Keka tak bisa duduk diam. Mondar-mandir. Mondar-mandir. Sambil berpikir, apa yang bisa membuatnya tampak lebih bagus? Bukan cantik. Bukan itu yang ia harapkan. Tapi, mungkin agak lebih muda sedikit.

Ah, keka, sejak kapan kau mulai peduli dengan dirimu?

Untukmu atau untuk dia?

Terkejut.

Keka tak bisa menjawabnya.

Dan, seperti wanita mana pun yang tengah jatuh cinta, Keka berbisik di depan cermin, “Ya, besok akan jadi hari senang-senang kita.”

Tapi kemudian pikiran-pikiran tak enak menyerbu. Bagaimana dengan tatapan-tatapan yang penuh rasa ingin tahu? Dan, lagi-lagi, pikiran wanita yang tengah jatuh cinta, ia tak punya baju.

Lalu, bagaimana dengan Bong?

Dari dalam kepedihan akhirnya nama itu muncul.

Keka selalu berpegang padanya, seakan ia rakit penyelamat ketika dirinya berada dalam air yang menenggelamkan. Nama itu penuh dengan hasrat. Tangannya menyambar telepon di meja, ingin menghubungi lelaki itu melalui kabel yang berdengung. Keka melemah. Tiba-tiba ingin menangis.

Bong, cerita kita belum usai kan?*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA