Keka #4

“Bagaimana kalau kita ke pantai?”

Kini ia berbicara dengan senyuman tegas.

“Masih cukup waktu sebelum kita kembali.”

Suaranya begitu jernih dan bijak.

“Kalau kau mau.”

Sesaat aku melihat matanya dengan emosi yang aneh.

“Ya,” kataku. “Aku mau.”

Lalu kami sudah berada dalam mobil.

Ah, pantai. Mengingatkanku akan sesuatu. Tentang gadis yang pernah ingin menjadi penulis terbaik di dunia, yang berjalan di samping laki-laki yang tak boleh ia cintai. Rasanya seperti berjalan di atas ilalang-ilalang yang patah. Tajam. Kalau saja ia bisa menahan rasa sakitnya.

Kami berjalan di atas pasir yang dingin. Ada sesuatu di udara. Aku merasakannya. Ada yang melayang dan berputar. Di balik duka, seperti ada hasrat yang menghibur. Bergetar. Seperti hadiah yang tak pantas aku peroleh.

Ah, apa yang terjadi dengan diriku? Aku mulai resah. Apalagi, tiba-tiba, aku merasakan pasir melentur di bawah kakiku, menggelembung naik, menutupi pergelangan.

Aku ingin mengajak laki-laki ini pulang. Ingin sekali mengatakan padanya, cukup, bawalah aku kembali pulang.

Di atas, teriakan burung elang bagai mengolok-olok.

”Hai, kau kenapa?”

Aku memandangi wajahnya. Di antara alis ada kerutan serius. Matanya kelihatan lebih gelap. Tapi, kenapa tampak lebih bersahaja? Wajah yang bisa dipercaya, aku menyimpulkan.

”Bergembiralah, Keka. Ya?”

Aku bergeming.

”Tolong, aku ingin kau bahagia,” ucapnya, sambil mengeratkan pegangannya ke tanganku.

Pantaskah aku menikmati hari seperti ini, meski sekali dalam hidupku? Kau tahu betul bagaimana cara menguasai pikiranku. Apakah semua wanita seperti ini?

Mendadak kepalaku terasa ringan, seperti tak terikat. Aku coba tersenyum.

”Apa yang sedang kau pikirkan?”

”Akan aku ceritakan padamu. Tentang impian dan kenangan.”

Dan, di pantai ini, di mana samudera seperti kertas emas yang dihampar sampai ke cakrawala, aku menceritakan harapan-harapan, juga ketakutan.

Begitulah. Tanpa melihat aku siapa dan dia siapa.

Ia meraih dan mencium telapak tanganku. Dengan sepercik kesedihan, sepanjang hari, aku menggenggam bentuk hangat bibirnya dalam tanganku. Tak akan kulupakan tempat ini, di mana aku pernah bersandar sesaat.

Di belakang, hatiku masih menunggu, meski tak ingin aku pikirkan sekarang.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA