Keka #5

Sebelum turun, ia menyelipkan sesuatu ke dalam tangan Sendu.

”Sendu. ini nomor teleponku. Kalau-kalau....... Kalau-kalau saja.”

Dan bayangan laki-laki itu menggelombang lenyap.

 

Aku Keka. Aku akan bercerita tentang Sendu padamu.

Sendu bermata biru.

Di malam hari ia berbaring dengan mata terbuka. Memandang langit malam, sampai bintang berkelip seperti kunang-kunang.

Kulitnya memerah, bercahaya. Indah.

Ia lahir di kota seribu permata. Ia tinggi seperti bambu liar.

Rambutnya tebal. Terkepang. Selalu berdesir tiap kali ditiup angin.

Sendu selalu meneteskan air mata pilu. Namun begitu, sesekali ia senang bernyanyi, meski tak sering.

 

“Halo.”

Kata itu menggantung di udara. Ragu. Menanti.

“Ya.”

Baru mendengar suaranya saja Sendu sudah tak bertenaga. Tak berani bertanya lebih jauh.

“Sendu?”

“Iya. Aku temanmu,” kata Sendu cepat.

Di ujung telepon hanya terdengar bunyi napasnya yang ditahan, setengah tak percaya.

”Aku berharap dapat menjumpaimu lagi.”

Sendu tersenyum.

”Jangan hari ini. Belum saatnya.”

“Tunggu, Sendu. Jangan tutup dulu!”

Kemudian ia memberitahu Sendu nama-nama jalan. Sekolah dan taman di sekitarnya. Pompa bensin. Beberapa mini market. Ambil bus ini lalu itu. Belok kanan di sini. Lalu belok kiri dua kali. Lewati binatu tua dan halaman yang penuh dengan mobil bekas.

Namun suaranya tenggelam dalam kegembiraan yang membenamkan diri Sendu sendiri.

”Sendu, aku akan bertemu kau lagi.”

Lalu suaranya hilang.

Di dalam hati Sendu yang gelap dan penuh curiga, ia sudah merasakan firasat kedatangan laki-laki itu jauh sebelum ia berdiri di sampingnya.

 

Ah Keka, tiba-tiba kau mengoceh seperti gadis remaja.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA