Keka #7

“Kenapa kau ingin bertemu lagi denganku?”

“Apakah harus ada alasan?” Ia tersenyum. Menggoda.

“Harus!” Suaraku kupaksakan tegas.

“Kalau begitu, mungkin, kau bisa mengatakan padaku apa itu.” Wajahnya kini serius.

Aku menarik napas dalam.

Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya.

“Apa?”

“Izinkan aku?”

Dan sebelum aku menolaknya ia sudah meraih dan meletakkan jemari tanganku di atas tangannya. Di tengah telapak tanganku, aku merasakan denyut jantungnya.

Sendu! Sendu, ada apa ini?

Tapi bibirku terkatup.

“Karung kepedihanmu membengkak.”

“Bagaimana cinta bisa membelit hatimu, menarikmu hingga berdarah, Sendu?”

Tanganku bergetar.

Kurengut kembali tanganku.

“Ah!” Aku menunduk dan bergerak menjauh.

Pertanyaannya membuatku nyeri. Di mana daya mantraku?

“Aku ingin tahu segalanya tentangmu.”

“Pergilah!” Ucapku tajam.

Ia tersentak.

“Baiklah,” jawabnya kaku. Terluka.

Tiba-tiba kesedihan mengembang dalam diriku. Kesedihan dan perasaan lain, rasa bersalah, ataukah putus asa?

Dan aku tinggal sendirian. Dalam temaram senja aku duduk di meja. Menuliskan kata-kata. Mengetik tanpa suara.

Kau akan tahu. Kau akan tahu pada waktunya.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA