Keka #8

“Lihat!” Ia membawa sebuah bingkisan.

“Kubawakan kau sesuatu.”

“Apa?”

“Untukmu.”

“Untukku?”

 

“Iya, untukmu.”

 

“Aku buka sekarang?”

“Jangan!”

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan hari ini.”

“Jadi, kapan?”

“Bukalah dua hari lagi.”

“Kenapa harus menunggu dua hari lagi?”

“Kau keras kepala, ya?”

Lalu tangannya memelukku. Bibirnya menenteramkan rambutku. Kulitnya terasa hangat seperti kayu yang terkena sinar matahari pagi.

Aku tersenyum dengan bulu mata basah.

“Baiklah.” Aku menurut.

Dua hari kemudian.

Terhampar di atas tempat tidur. Aku angkat, ia panjang menjuntai. Begitu halus. Seputih embun. Gaun paling indah yang pernah kulihat.

Kuletakkan gaun itu.

Ada rasa yang mengacaukan diriku luar-dalam.

“Aku tak bisa memakainya.”

“Kenapa tidak?”

“Terlalu mewah.”

“Ini bukan gaun mewah tapi gaun wanita cantik. Dan kaulah wanita itu.”

Suaraku tersendat.

“Pakailah gaun itu,” ucapnya, sambil meletakkan tangannya menutup bibirku agar tak lagi protes.

Setelah gaun itu menyelubungi tubuhku, ia mendorongku ke depan cermin.

“Selamat ulang tahun. Kamu mengagumkan sekali, Keka.”

Ia tersenyum, meremas tanganku.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA