Keka #6

Aku memejamkan mata.

Bong menciumi pundakku, leherku, dengan ciuman-ciuman kecil.

”Keka, sayang.”

Bong memutar diriku menghadapnya. Membuka kancing bajuku dan membiarkannya jatuh. Tangannya bergerak, membelai tubuhku.

”Keka, sentuhlah aku juga.”

Aku terlalu malu untuk membuka mata. Tapi kuselipkan tanganku ke balik kemejanya. Membangkitkan rasa lembut dalam hati.

Kami sekarang di atas ranjang.

Bibirnya ada di mana-mana. Menggoda. Memancing hasratku keluar.

Ia mengangkatku ke atasnya. Membiarkan rambutku menutupi wajahnya. Menarik pinggulku ke dirinya, sampai kami menyatu.

”Bong.” Aku mendesah. Memanggil namanya.

Saat itulah aku merasakan kesedihan. Lantas, aku terbangun dari mimpiku.

Bong, apakah kau memimpikan mimpiku?



Aku masih memikirkan jawabanku. Apa yang ingin aku katakan dan apa yang semestinya aku lakukan.

”Keka, bagaimana menurutmu?”

”Kita akan bertemu lagi kan?”

Hening.

”Keka, apakah aku harus menunggu jawabmu sampai minggu depan?”

Di sekeliling angin sepoi-sepoi membelai pipiku. Lembut. Lembap.

Aku menyembunyikan senyumku dan mengangguk. Di kepalaku seperti ada angin ribut. Kata-kata beterbangan di dalamnya.



Lihat! Aku sudah terlalu tua untuk semua ini.

Aku mengambil kertas dan pena. Jemariku mati rasa. Mataku tak patuh, rasanya ingin menangis. Pikiranku hanya muncul kata-kata rindu.

Bong. Ada seseorang sedang melangkah di atas es tipis, tahu bahwa setiap saat es bisa retak, namun aku tak mampu menghentikannya.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA