Komidi Putar

Ia datang juga.

Aha! Siapa dia?

Ia seorang lelaki biasa dengan hati yang luar biasa.

Ia datang dengan sekotak penuh kebahagiaan, penuh dengan bunga-bunga harum kerinduan. Ia datang bersama rinai hujan, sambil membawa sebuah harapan: ingin berjumpa dengan perempuannya. Perempuan yang terbuat dari angin kehidupan.

Mereka bertemu. Berjabat tangan di atas lantai yang dingin. Dan seketika, sama-sama menjadi ingin. Ingin menatap. Ingin tertawa. Ingin berbagi kerinduan. Ingin segera memecahkan semuanya dengan kata-kata.

Perjumpaan pertama buat hati si perempuan berdegup tak karuan. Ia hanya bisa menunduk, tak tahu harus bagaimana. Sesekali tersipu. Tersenyum malu-malu. Diam-diam hati si lelaki pun bertalu-talu.

“Aku senang dapat melihatmu dalam terang,” ucap si lelaki dengan mata berbinar.

“Aku juga. Kini dapat melihatmu jelas sekali,” balas si perempuan malu-malu.

Tidak hanya mendengar suara atau bermain kata di kotak maya. Tapi kali ini benar-benar nyata. Mereka bertemu. Duduk berhadap, dengan mata saling menatap. Saling berebut bicara. Saling melontarkan kata-kata di udara. Tanpa harus berpindah tempat.


“Rasanya seperti naik komidi putar,” ucap si perempuan malu-malu.

“Asyik, ya?”

“Ha-ha, iya. Memabukan sekali rasanya.” Tawa si perempuan pun pecah.

Si lelaki diam memerhatikan. Ada senyum terlihat, sekaligus kegusaran yang mulai tampak.

“Ada apa?” tanya si perempuan.

Tak ada jawaban.

“Maaf ya, kalau aku terlalu banyak bicara.”

“Tidak apa. Aku senang melihatmu tertawa.”

“Kamu menyembunyikan sesuatu.”

Si lelaki bergeming. Menatap lama mata perempuan yang selama ini ia rindui diam-diam. Merekam dan menyimpan di pikiran yang paling dalam.

“Kenapa tidak dari dulu kita bertemu?” tanya si lelaki pada perempuannya.

Suara musik karnaval berkumandang. Kuda-kuda berputar. Melayang. Lampu-lampu terang memenuhi keramaian malam. Begitu memesona. Ada komidi putar berputar pelan, dalam tidur perempuan yang terbuat dari angin kehidupan.*

 

Comments 

 
# Joko Wibowo 2011-12-06 16:11
Pertemuan pertama yang mendebarkan hati.
percikan percikan cinta dimulai dari sini.
Reply | Reply with quote | Quote
 
Dokumentasi
Powered by mod LCA