Lima Tentang Kita

Kemarin siang.

“Besok sibuk?” tanya lelaki pada perempuannya.

“Ada apa?”

“Besok ada pameran foto “Sembilan Tahun Reformasi”. Ingin nostalgia, rasanya.”

“Menemani teman baik bernostalgia, kenapa tidak?”

“Kita ke Planetarium juga, ya?

“Hore! Planetarium,” pekik perempuan girang.

Esok harinya.

Si perempuan mengintip dari balik jendela. Melamun, dan hujan pun turun.

Mereka jalan berdua di bawah rintiknya. Membelah jalan raya, melewati kedai kopi, tempat mereka bertukar tiket kunjungan cinta di hari lalu, ada rumah makan asia, penjahit, toko roti, bangunan tua, dan mereka terus beriringan tanpa saling bersentuhan tangan. Berlarian menuju gedung kesenian tua.

“Lihat poster itu!”

Si lelaki menatap poster di hadapannya.

Theater Konnyakuza mempersembahkan pinokio sebuah karya legendaris Carlo Collodi.

“Ada yang gratis. Berminat?” tanya perempuan, sambil menunjuk poster pementasan wayang kulit dengan lakon Wahyu Tejaningrat.

Si lelaki hanya tersenyum.

Forum silaturahmi dan diskusi, Kenduri Cinta, bersama Emha Ainun Nadjib. Ini juga gratis.

Pentas tari hip-hop.

Tikungan Maut, karya Asrul Sani. Aktualisasi dalam bentuk pertunjukan gaya komedi satire.

“Ah, ada pentas balet. Kenanganku masa kecil dulu,” ucap perempuan, sambil melihat poster pentas tari balet, Les Creatures CCN/Le Ballet de Biarritz dengan koreografer Thierry Malandain.

Si lelaki bergeming dan mereka masih saja termangu di bawah poster. Tiba-tiba lelaki meraih tangan perempuannya, lantas mengajaknya duduk di taman. Mereka tertawa. Senang. Ada suara gelak. Terdengar gembira.

Sambil menatap mata perempuannya, si lelaki berkata, ”Jangan katakan padanya jika kita pernah tertawa bersama.”

“Kenapa?” tanya perempuan.

“Karena kita tengah membuat kisah lain dalam perjalanan kehidupan kita.”

Mereka tidak memilih salah satu dari sekian poster tadi. Mereka tidak menikmati pentas balet maupun pinokio. Mereka tidak duduk terkantuk di balkon pertunjukan wayang. Mereka tidak mendengarkan dan terlibat dalam diskusi. Tidak juga menyambangi pameran foto dan Planetarium.

“Kecewa?” tanya lelaki.

“Tidak,” jawab perempuan mantap.

“Asal tetap bersama kamu, si penyeimbang ekosistem saya.” Si perempuan tersenyum bahagia.

Masih di bawah rintik, mereka berjalan meninggalkan gedung kesenian tua yang semula membawa mereka datang berjumpa.

“Terima kasih,” ucap lelaki sebelum berpisah.

“Untuk apa?”

“Saling melengkapi yang tlah lengkap ini.”

Si perempuan masih berdiri dan mengintip dari balik jendela. Berdua di bawah rintik pastilah pilihan yang menarik, lamun si perempuan. Tapi siang ini terik. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.

“Ah, kapanpun, bersama kamu, aku selalu merasa nyaman.”*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA