Lolita #1

Sudah terlalu lama kau terbang. Berbagi keindahan dengan yang lain. Hinggaplah sejenak di dahan yang rindang. Kau perlu berteduh, membersihkan peluh, juga agar jejakku utuh.


BARA. Beberapa bulan sudah Lolita mengenalnya. Mereka berbagi cerita, lewat surat elektronik, kotak percakapan, dan pesan singkat. Mereka juga berkomunikasi lewat puisi-puisi, di malam hari. Beberapa bulan saling berbagi, dengan berbagai macam jalan, tapi tanpa ada perjumpaan.

“Mau main ke rumahku?” tanya Bara suatu ketika.

“Boleh aku ke sana ?” Lolita bertanya ragu-ragu.

“Boleh.”

Aku menemui Bara? Ah! Lolita tersenyum, sambil menepis khayalan. Selama ini, baginya Bara hanyalah sebuah ilusi, sesuatu yang ada dalam angan-angan. Sekalipun tak pernah Lolita berpikir akan bertemu dengannya. Bara sudah dianggap sebagai kekasih, hanya dalam cerita fiksi malam saja.


SIANG yang cerah. Lolita melangkah ringan, meski hati tak karuan. Perlahan ia melewati sebuah taman. Aduh, aduh, Lolita malu. Cerita fiksi malamnya sebentar lagi akan berubah menjadi kenyataan. Ia akan bertemu dengan Bara.

Beberapa bulan sudah Bara mengisi malam-malam panjang, dengan puisinya yang hangat. Sosoknya memenuhi pikiran, lantas membentuk sebuah bayangan, seorang yang lembut, hangat, dan romantis. Bara, samakah dirimu sesungguhnya dengan yang tlah dibayangkan?

Bara membuka pintu. Lolita membatu. Lolita menatapnya. Bara terpana. Lolita begitu canggung, lantaran tak tahu hendak berucap apa. Bara pun hanya tersenyum, mungkin juga tak tahu harus berbuat bagaimana. Selekasnya Lolita mengulurkan tangan, sambil mengucapkan salam perkenalan.

“Hai. Apa kabar?” ucap Lolita, sambil menunduk malu. Ya, ampun! Jabatan tangan yang kaku dan dingin, tak sehangat puisi-puisi malam yang selalu membuat ingin.

Lolita tak percaya bahwa Bara ada, sungguh nyata. Tak lagi absurd. Bara kini berada di hadapan. Sungguh Lolita malu sekali, ketika Bara menatapnya tak henti-henti. Lolita mencoba tenang-tenang, tapi rasa canggung tak juga mau hilang.

“Kenapa harus menunggu berpuluh-puluh tahun, Lolita?”

Lolita duduk, sambil sesekali melirik ke arah Bara. Bara masih saja menatapnya tanpa kedip, dan semakin teraduk-aduk dibuatnya. Bara seakan tahu yang tengah terjadi pada diri Lolita. Lantas,

“Boleh aku menggenggam tanganmu?” pinta Bara, dan Lolita tersenyum dibuatnya.

Belum juga Lolita menjawab, mereka sudah sama-sama tertawa. Kemudian suasana berubah, mencair, lebih hangat dan mereka menjadi semakin dekat, akrab.

Sambil bercakap-cakap, Bara menggenggam tangan Lolita. Walau sesekali Lolita menarik tangannya kembali, lantaran malu karena Bara tak mau melepaskannya. Kalau sudah begitu Bara akan kembali meraih, menggenggam tangannya lagi.

“Boleh aku menciummu, Lolita?”

Lolita menatap Bara sesaat. Tak bergerak. Tertunduk. Tapi kemudian Bara menaikkan wajah Lolita. Bara menjadi begitu dekat, hingga hampir memenuhi semua penglihatan. Lolita memejamkan mata. Membiarkan nafasnya saling berkejaran.

Bibirnya menyentuh alis mata Lolita satu-satu dengan pelan, sangat pelan, seolah ingin semua kerinduan ini tertelan. Bibirnya menyentuh pipi Lolita satu-satu dengan lembut, sangat lembut, seolah menyapu kabut.

“Kamu indah, Lolita.”

Nafasnya berhembus hangat di telinga, begitu dekat, begitu lekat. Bibirnya mulai melumat. Lidahnya mencari dan saling memberi. Ia terus memburu, terus mencium, hingga melepaskan desahan pertama, satu-satu.

Ah! Lolita tesentak. Buru-buru ia memalingkan wajah. Malu. Seperti sepasang muda-mudi yang baru berpacaran. Jantung berdegup tak karuan. Ini kali pertama mereka berciuman.

Lolita mengalihkan perhatian dengan melihat buku-buku. Bara menyalakan lampu, dan membiarkan Lolita menyentuh bukunya satu-satu. Lolita tahu, Bara ada di belakangnya. Lolita tahu, Bara tengah berusaha mencuri harum rambutnya. Lolita tahu, Bara tengah menatapnya penuh rindu. Lolita tahu, Bara!

“Lolita, lihat! Itu bukumu.”

Bara menunjuk pada sebuah buku tebal, buku yang pernah mengisi malam-malam mereka berdua. Lolita menoleh, ingin meraih tapi ia merasakan tangan Bara tlah melingkar di tubuhnya.

Bara memeluk dari belakang. Merengkuh tubuh, sambil sesekali mencium anak-anak rambut. Ia bisikkan sebuah puisi indah di telinga, sungguh syahdu. Tak tahan, Lolita berbalik, menatap matanya dalam-dalam. “Bara, beginikah rasanya pulang?”

Bara menarik tubuh Lolita, dipeluknya sayang-sayang. Dua tangan Lolita menangkup wajah Bara. Menyentuh pipinya, sambil menghafal setiap lekuk di wajah di hadapannya. Bara terdiam. Lolita pun mencuri aroma tembakau yang tertinggal di ujung bibir, kemudian mereka berciuman lagi, berpelukan, sambil menari.

“Kamu menawan, Bara.”

Tak ada lagi suara. Mereka terus menari, menari dan menari. Lolita tak pernah menyangka, hatinya berjatuhan dibuatnya. Puisi-puisinya yang selalu menyusup di malam-malam panjang, kini mulai menebarkan rasa, rasa yang ingin Lolita genapkan bersamanya.

Sebelum pulang, Bara masih sempat mencuri bibirnya lagi.

“Iya, Bara, kita sudah mulai menulis sebuah kisah roman nyata,” bisik Lolita.


Terbanglah kembali pulang, hinggaplah dalam kuncupku yang mengembang. Sentuh putiknya, Lolita, hisap sarinya. Seperti kukecup sayap-sayapmu, jelajahi warna tubuhmu.*

 

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA