Lolita #10

Bara gelisah menatap dari balik jendela, menembus hamparan bunga bagai menebar jala. Ia tiba-tiba menghitung. Satu menit, dua menit, lima menit. Tapi, tetap saja di sisi jendela ia mematung.

Akhirnya, Lolita melewati pintu gerbang.

“Kini kau selalu menungguku.”

“Aku rindu.”

Lolita langsung menuju ruang yang biasa ia tuju. Bara mendekap Lolita dari belakang, melepaskan kehangatan dengan tenang. Lama, Bara ingin berlama-lama, mendekap kekasihnya dalam tarian ringan penuh irama. Mereka pun berbagi bisik, tentang rindu yang selalu mengusik.

Lolita berbalik, kembali merengkuh sambil menatap mata Bara penuh.

“Bisakah ini kita hentikan, Bara?”

Bara terkesiap. Ia berpikir beberapa kejap, takut ada yang lindap. Mata Lolita terpejam. Bara menyapu anak-anak rambut kekasihnya hingga ke alis mata yang hitam kelam. Bara mencium bibir Lolita lembut. Tapi, tak ada bibir yang menyambut.

“Ada apa, Lolita?”

“Aku hanya tak tahan, mendapati kamu yang kian hari kian dekat di hati.”

Bara memahami perasaan kekasihnya, dan harus bersiap membawa hati ini berkelana.

“Aku pernah menulis: sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu, di setiap waktu. Sepanjang hidupku aku relakan dirimu, tinggalkan aku. Kamu tinggal katakan saja, Lolita.”

Lolita tertawa.

Ya, ini memang syair lagu remaja. Lantas Bara menghujani Lolita dengan kata-kata indah.

“Gadis berbaju merah, dengan senyuman merekah, ku tak ingin hatimu resah. Kemarilah, biar kita berbagi gelisah, mengeringkan kenangan yang sudah basah.”

Lolita bergeming.

“Desahmu menghangatkan mimpi, menyampuli album kenangan kita dengan rapi. Kenapa lelah? Tak ada yang salah, karena tak ada yang tahu bagaimana hati terbelah.”

“Terima kasih, Bara. Aku, mungkin, bukan sebait puisi bagimu. Tapi kamu akan selalu menjadi dongeng bagiku.”

“Kamu puisi itu sendiri, yang seindah bunga mekar di pagi hari. Kamu dongengan malam, yang selalu ajakku bermain dalam ruang-ruang silam. Kamu anugerah terindah untukku, Lolita.”

Tapi pembicaraan tak berlanjut. Mungkin mereka masih belum siap untuk terkejut. Mungkin masih banyak yang ingin mereka rajut.

Malam kian jatuh. Bara kembali mengumpulkan kepingan kenangan agar kembali utuh. Ah, Lolita, rumah ini akan menjadi kenangan. Ia akan selalu melekat dalam angan, ketika masih tergambar utuh atau hanya berupa kepingan.*

 

Comments 

 
# imom 2011-04-23 17:03
*leyeh-leyeh nungguin lolita #11*
Reply | Reply with quote | Quote
 
Dokumentasi
Powered by mod LCA