Lolita #12

Cuaca kurang bersahabat; hujan datang hanya berkelebat, panas begitu menyengat. Hari ini libur. Lolita menepati janji. Seharian ini ia tidur. Memulihkan kondisi badan yang didera sakit. Sebab kalau malam ia terbatuk, membuat mimpi-mimpinya terantuk.

Sore hari Lolita baru terbangun, oleh suara gemericik hujan. Akhirnya, Bara menjemputnya di pojok dunia, dan berbincang.

“Senang menatap matamu yang lelap. Tadi aku menciuminya pelan.”

Lolita tersenyum. Mereka berciuman.

“Rindu kamu dalam penuh waktu,” bisik Lolita lembut.

“Ah, Lolita. Rindumu membakarku. Aku ingin kamu.”

 

Bara menggoda kekasihnya, menciuminya hingga terpana.

 

“Kau buatku terkenang, akan rasa melayang.”

“Aku hanya mengulang; rindu yang tak akan lekang, hasrat yang menjulang.”

Bara mulai memainkan jemari. Lidah-lidah pun ikut menari. Lolita menahan geli yang tak terperi. Bara melumat bibir kekasihnya sambil menekan, sambil memberinya bisikkan.

“Sungguh kurindu pada perempuan yang kucinta.”

“Rindu ini takkan mengalah,” bisik Lolita tak mau kalah.

“Aku ingin bercinta denganmu, berkali-kali, setiap hari.”

Suasana hening. Dalam aroma kering, desiran hangat menyapu kening. Ada yang mengajak bercinta. Ada yang kembali menghempaskan tubuh-tubuh yang terbata.

“Bercintalah denganku, Bara!” ajak Lolita, sambil memeluk kekasihnya.

Malam semakin tenggelam. Kelambu pun mengembang. Ada bayang berdiri di ambang kerinduan. Tertatih ia melayang. Timbul tenggelam dalam pangkuan. Ada rindu tengah menggenang.

“Aku ingin bercinta denganmu sepenuh waktu.”

Tiba-tiba saja mereka sudah berdekapan dalam dingin malam, dan sama-sama mengerti bahwa kebersamaan ini sudah cukup membuat mereka tenggelam. Bara pun menindih, menekan kekasihnya hingga merintih. Mengasah, memenuhi rongganya hingga basah. Lolita menggeliat, dengan rasa nikmat yang pekat.

“Aku bahagia menemukanmu, Bara.”

“Aku bahagia bisa mengeja namamu, membisikkannya di daun telingamu.”

Di kamar ini wangi tubuh kekasihnya datang menyeruak. Di antara tubuh-tubuh yang merangsak, bibir-bibir yang berdecak, dan nafas-nafas yang sesak. Di kamar ini Bara menikmati tubuh kekasihnya yang masak.

Pengaruh obat begitu kuat, dan Lolita pun kembali terlelap.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA