Lolita #13

Lolita bercerita tentang seorang lelaki yang pernah mengajaknya bertemu, lalu patah hati. Lelaki itu muncul lagi, mengajak bertemu lagi.

“Kalau kamu pergi menemuinya, aku juga patah hati,” ucap Bara.

“Tidak akan, sayang.”

“Dia tidak tahu bahwa aku menunggumu 31 tahun lamanya.”

Lolita tersenyum.

“31 tahun kurang satu hari, dan alunan puisi yang membawa aku datang padamu di sini.” Lolita menambahkan.

Lolita mendekap tubuh lelakinya. Manja. Kepalanya tersandar di dada. Tersenyum malu, ingat pertemuan pertamanya dulu.

“Kamu sudah membuka halaman kita?” tanya Bara. “Aku baru saja menambahkannya, merekam kehangatan kita.”

“Sudah. Seperti biasa, bahagia membacanya.”

“Aku inginkanmu. Utuh.” Suara Bara terdengar cemburu.

“Kamu sudah mendapatkannya.”

“Jangan tinggalkan aku, Lolita,” ucap Bara resah.

“Tidak akan ada yang pergi meninggalkanmu, Bara.” Lolita meyakinkan kekasihnya. “Kamu terlalu indah untuk ditinggalkan.”

“Kita sudah begini dekat. Aku bisa merasakan kehangatan dan kebahagiaan. Aku menemui cinta: kamu, Lolita.”

Bara menghujani Lolita puisi.

“Di sisi bunga pagi sore aku terpekur. Ada jejak-jejakmu membentuk lajur. Kau yang tinggalkan saat pulang dengan tangan terulur, menyentuh putik bunga yang tak pernah gugur.”

Lolita pun menjawabnya, “Baramu selalu membakar waktu. Tiap kali bertemu, selalu membiru. Menderu.”

“Baraku membuatmu hangat, tak kan menyengat. Tapi cukup menaburkan rasa nikmat, yang sangat.”

Bara memburu kekasihnya, menciuminya hingga terlena.

“Di jantungmu, aku ingin berbagi gemuruh. Di tubuhmu, aku ingin luruh.”

Bara menciuminya lagi.

Memeluknya. Erat. Sangat erat.

Takut kehilangan.

“Aku tak ingin kamu pergi,” pinta Bara sekali lagi.

“Tidak akan, Bara.”

“Aku menunggu 31 tahun lamanya. Aku mencarimu di kaki langit. Hampa memanggil namamu, hingga luruh dalam keheningan yang menyeluruh. Kini kita tlah bertemu. Jangan lagi ada jeda. Aku tak ingin lagi terbata mengeja namamu di udara,” bisik Bara.

Kehangatan lesap dalam mimpi. Keindahan ini takkan pernah menepi. Mereka pun rebah, dan tak ada yang basah, karena malam hampir sudah.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA