Lolita #14

Lolita membaca koran. Ia melihat kolom kontak jodoh. Lalu menarik tangan Bara, mengajak kekasihnya melihat daftar.

“Aku carikan kamu pendamping hidup, ya?” ucap Lolita, sambil mencium kekasihnya.

Entah kenapa Lolita jadi ingin Bara ikut kontak jodoh. Lantas segera menyiapkan profil. Bara hanya tersenyum melihat ulah kekasihnya.

“Kamu ingin wanita yang seperti apa?” tanya Lolita.

Bara terdiam. Berpikir untuk sebuah jawaban.

“Aku ingin semua yang ada padamu,” jawab Bara.

Kening Lolita mengernyit. Bibirnya tergigit. Tidak puas, Lolita merevisi tulisannya kembali, agar pas.

Mencari seorang wanita yang hebat, dapat menciptakan suasana yang hangat, dan dapat membuatku merasa dekat hingga lekat. Tulis Lolita.

“Bagaimana?” tanya Lolita pada Bara.

Bara mencium kekasihnya.

“Terima kasih sudah buat hari-hariku terasa indah. Sepertinya tidak akan mudah melupakanmu suatu hari nanti. Kamu akan tetap mengisi relung hatiku, kini atau nanti.”

Lolita tersenyum. Menyentuh wajah Bara malu-malu.

“Andai aku punya cukup hati untuk bisa kubagi dengan yang lain?” Lolita terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak.

Tiba-tiba Lolita sudah merasa patah hati.

“Aku ingin kamu bahagia, Bara.”

“Kamu sudah buatku lebih dari bahagia.”

“Aku bahagia menemuimu,” ucap Lolita sendu.

“Aku pun bahagia bisa mengenalmu dan bisa sedekat ini.”

Di luar mulai turun hujan. Angin berkejaran, tapi udara di ruangan tetap saja terasa panas. Bara mendekap kekasihnya. Selembar demi selembar bajunya pun tanggal.. Mereka pun beradu. Bibir melumat bibir. Lidah mengait lidah. Mereka seperti dilanda air bah, ingin segera rebah.

Dan, mereka pun bersetubuh, tanpa suara gaduh.

Apakah kalian akan bosan membaca kisah ini, sebelum yang lain tiba mengambil Bara?*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA