Lolita #15

Bara menyeduh kopi, menikmati koran pagi. Sampai siang Lolita tak memberi kabar. Bara rindu, ingin mendengar suara dan tawa kekasihnya yang merdu.

“Kamu lagi, apa?”

Tak ada sahutan.

“Lolita…”

Sosok menawan itu pun muncul.

“Tadi aku membaca cermin lagi, dan rasanya masih sama; indah tapi aku melihat menara air mata di sana,” ujar Lolita gundah.

 

Bara terdiam.

 

“Kamu tahu? Kedekatan kita ini malah buatku dilema.”

“Lolita, maafkan aku bila cermin tlah buatmu gundah. Aku senang menulis tentang kamu, tentang betapa manjanya kamu, tentang betapa lucunya keseharian kita berdua, dan tentang betapa bahagianya aku menemukan dirimu.”

Sudah lama Lolita mengendapkan gundah. Sebenarnya ia bahagia bisa mengenal dan dekat dengan seseorang seperti Bara. Seperti mendapatkan anugerah. Tapi ia merasa tak ada alasan dan tujuan. Masing-masing hidup di dunia yang berbeda. Bisa bersisian, tapi tak bisa bersama. Memiliki tapi benar-benar tak memiliki.

Jika mencari alasan, mungkin Lolita bisa bertanya pada puisi, mungkin juga cinta. Tapi bukankah puisi hanyalah pelipur lara, meski nafasnya begitu menggoda. Dan, adakah cinta datang tanpa tujuan? Ataukah datang hanya untuk mencinta, lalu menghilang dalam satu kedipan mata?

Bara tak bisa menjawabnya, adakah tujuan di depan mata. Mereka sudah sama-sama melihat, tak ada jalan itu, tak bisa melewatinya, apapun yang terjadi.

“Kita tak bisa berlama-lama seperti ini,” ucap Lolita memecah hening.

Lolita tak ingin tenggelam terlalu lama. Akan sangat sulit baginya berenang melawan arus, dalam kegelapan yang menggerus. Naik ke permukaan hanya untuk melihat cahaya yang kian aus, sementara sahara ini masih terbentang luas.

“Beri aku waktu, dan aku ingin kau mengawalku, sampai aku menemukan seseorang untuk menemani perjalanan ini,” pinta Bara yang sesungguhnya belum siap.

Bara lalu membenahi cermin lagi.

Kita memang bertemu di persimpangan jalan. Kita sudah sama-sama memutuskan untuk singgah sejenak, lalu berpisah jalan dengan membawa kenangan. Kita tak tahu kapan, belum mengira seberapa terik matahari di depan, dan seberapa siap menahan. Tapi, saat ini aku hanya ingin bersamamu, Lolita. Bukan saat ini, mungkin nanti dalam pertemuan-pertemuan yang menanti.

Bagaimana aku bisa melupakanmu, Lolita? Bahkan dulu pun aku tak bisa, padahal kita belum sedekat ini. Tulis Bara di cermin.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA