Lolita #16

Lolita,

Aku ingat dirimu, juga melihat dalam diriku sendiri. Beginikah rasanya sepi? Sunyi. Tak bisa lagi bercengkerama atau tertawa.

Aku ingat pada suatu siang yang terik. Kau merebahkan badan, bercerita tanpa sedu sedan. Tapi kulihat raut mukamu menegang, menghentikan tarikan nafaku yang panjang.

Aku hanya bisa terpaku di sisimu, menatap matamu yang semu. Mungkin tak seharusnya aku bertanya padamu: kenapa kau mau menghabiskan malam-malam yang hening bersamaku.

Pertanyaan itu sudah bergelayut dalam benak sejak aku mengenalmu. Kadang aku ragu untuk menemanimu: terlalu indah, mungkin hatiku takkan bisa menjadi wadah.

Pernah sekali kubertanya padamu, di awal-awal kebersamaan kita, tapi kau tak mau aku langgar wilayahmu. Hingga pernah kita berjarak. Rusak. Lalu kita membenahi kaca yang retak.

Ketika cermin itu kembali utuh, kita tak bisa lagi menyentuhnya.

Lolita,

Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan? Ia adalah ada di sekitar kita tanpa kita bisa menyentuhnya.

Terbangun di pagi hari, secangkir kopi selalu menemani. Aku akan menikmatinya sembari bersandar di meja dapur; terpekur. Aku akan menggenapkannya dengan sebatang rokok, membiarkan asapnya mengepul terseok-seok.

Jejakmu menguntit, tersenyum genit. Kau duduk manis atau mendekapku manja. Kau akan mencuri satu hisapan, kala aku melangkah ke depan. Asapmu masih menari, mengitari seluruh ruangan hingga kini. Tak bisa kutepis, tapi jua bisa mengais.

Usai merokok, kuletakkan cangkir di atas meja makan. Sejenak, hanya sejenak, karena jejakmu sudah beranak-pinak. Di sinilah, di awal perjumpaan, aku melamarmu. Mendekapmu. Menyentuh bibirmu. Di meja makan, selalu di meja makan, kita menggapai kehangatan.

Aku menuju ruang si wajah angkuh, mencoba membuang ingatan akanmu dengan menulis hingga jemari melepuh. Tapi, di ruang ini, tak ada celah tersisa, kau begitu berkuasa.

Tak ada tempat bagiku bersembunyi darimu. Berdiri di tengahnya ada kau menari. Mendekap. Melumat. Rebah di lantainya apalagi. Ada hembusan nafas berkejaran, tawa berdesiran. Aku juga tak mampu duduk di kursinya.

Terlalu sulit melupakan kenangan dan kehangatan. Terlalu indah, melupakanmu takkan mudah.

Aku tak bisa bekerja. Tak ada satu kata pun tercipta. Hanya kepedihan yang datang dengan terbata.

Aku bergegas menuju kamar mandi. Suaramu memanggil. Membasuh tubuh, mengingatku saat kau berlabuh.

Semua sudut di rumah ini penuh dengan jejakmu. Kau bukan hanya meninggalkan hatimu di jendela; kau sudah memiliki semuanya.

Lolita,

Inilah kehilangan. Aku yang kau tinggalkan. Aku yang merasakan.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA