Lolita #17

Bara,

Ingatkah ketika hujan turun kian lebat, kita melihatnya dari balik jendela yang setengah terbuka, sambil sesekali bertatap muka?

Lalu aku mengajakmu ke tepian jalan. Aku membuka payung hitam ke arah lantai, tapi tiba-tiba ujungnya terkulai. Nyaris patah dan aku merasa bersalah. Tawa kita pun pecah.

Ketika gemericik air kian membuncah, aku jadi jengah. Kau pun mengalah. Sambil memegang payung, kita pun menyusuri jalan, membuat hujan terbelah.

Tanpa menghiraukan orang-orang bersiutan.

Aku senang sepayung denganmu. Terasa begitu dekat. Kala itu aku ingin menggandeng tanganmu, tapi kalah oleh rasa malu. Kita memang cocok sebagai sepasang remaja yang kasmaran.

Bara,

Membaca cermin, bercinta denganmu, membuat aku berpikir ke belakang.

Dulu aku pernah melamunkan, andai ada seorang lelaki yang mau menulis untukku. Menulis tentangku. Tapi bukan, bukan karena menulis maka kita sama-sama menjadi nyata.

Sudah lama aku mengendapkan gundah. Aku bahagia bisa mengenal dan dekat dengan seorang seperti dirimu. Seperti mendapat anugerah.

Tapi aku merasa tak ada alasan dan tujuan. Masing-masing hidup di dunia yang berbeda. Bisa bersisian, tapi tak bisa bersama. Memiliki, tapi tak benar-benar memiliki.

Walau aku tak pernah menyesali cupid terlambat melepaskan anak panahnya pada kita berdua. Memang takdir kita sudah terlambat; meski cinta sudah begitu dekat.

Bara,

Kesepian sudah menjadi milik kita berdua. Takkan lagi ada pesan. Hanya suara-suara yang berloncatan lewat gelombang udara, tanpa orang lain bisa menangkapnya.

Perlahan aku akan menepi. Aku akan merasakan sepi, sendiri. Tapi kita sudah memiliki sebuah bilik di hati, tempat kita pernah menari. Percayalah, kehangatan itu takkan pernah berhenti.

Aku belum tahu bagaimana melewati waktuku, mungkin dengan menunggu, atau termangu. Mungkin kelak kita akan kembali bertemu, dengan paras lugu, suara gagu, hati yang ragu, seperti perjumpaan kita pertama dulu.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA