Lolita #2

Terbanglah kembali pulang, hinggaplah dalam kuncupku yang mengembang. Sentuh putiknya, hisap sarinya. Seperti kukecup sayap-sayapmu, jelajahi warna tubuhmu.


Dan, Lolita pun kembali pulang.

“Aku merindumu,” bisik Bara di depan pintu.

Ada pelukan hangat di antara hamparan bunga yang berjingkat. Bara mencium pipi Lolita, yang masih saja tersipu malu. Ada rindu yang ia bawa untuk lelaki yang selalu buatnya terpana: Bara.

Lolita menuju ruang makan, duduk dengan nyaman. Mereka berhadap-hadapan. Lolita memandangnya tenang-tenang. Bara bercerita, mereka berebut bicara hingga tak lagi terbata. Ini dan itu. Lalu, kemudian. Apa saja, semuanya.

Mereka berbisik manja sesekali tertawa, mengendapkan gejolak di jiwa. Bara menyingkap rambut yang menutupi telinga, berbisik, dan Lolita tergelitik akan suaranya yang gemerisik. Sesekali Lolita tertunduk ketika wajah Bara mendekat. Masih ada malu yang tersisa, tapi tetap ada lilitan lidah yang berbisa.

Lolita menuju ruang depan, mengambil koran dan membacanya sambil tiduran. Bara menatap dari kejauhan, sesekali Lolita mencuri pandang dari balik lembaran koran. Bara menyalakan pemantik. Api pun menggelitik. Asap tembakau berkelun di bibirnya yang pucat penuh pikat.

“Aku ingin meraup aroma tembakau dari bibirmu,” kata Lolita mendekat.

Semuanya seperti perulangan tapi terus menggenapi angan-angan. Di ruang makan tubuh mereka kembali menyatu. Bara melumat bibir, mencari lidahnya dan mengaitkannya sempurna. Lolita mendesah, Bara terus memburu hingga bibirnya basah. Lolita mencoba berkelit tapi lidahnya tlah terlilit.

“Aku menginginkanmu,” ucapnya sendu.

Lolita melepaskan pelukan, menuju kamar buku. Berjalan mendekat pada gambar si wajah angkuh, dan menatapnya dengan senyum penuh-penuh. Lolita menyentuh buku-buku, memandang foto masa kecilnya, memastikan ini bukan dunia maya. Bara mengikuti, memeluk pinggang dari belakang tanpa terburu, tanpa memburu. Tapi, Lolita merasakan, Bara menginginkannya.

“Aku ingin mengeja nama kita di atas tubuhmu.”

Mereka pun luruh. Lolita membiarkan Bara bermain-main di atas tubuhnya hingga berpeluh. Lolita pun mengeluh. Bara menyentuh, membelainya hingga lumpuh. Lolita bangkit, tak kuasa menahan geli yang menggigit. Lolita kembali menyusuri buku, sementara Bara terbaring dengan menahan kedua siku, memandang dengan tatapan sendu.

“Kemarilah,” pinta Bara. “Akan kubacakan buku tentang angka yang menggerakkan umur.”

Lolita kembali menyatu dalam pelukan Bara.

Lolita teringat Bara pernah bercerita soal ahli-ahli nujum yang bisa mengajak pulang tubuh-tubuh ranum. Ini hanya gurauan tapi Lolita membiarkan dirinya termakan. Bara pernah meramal garis tangannya di awal perjumpaan. Lolita tahu sebenarnya akal-akalan agar Bara dapat menyentuh tangannya. Kini Bara akan meramal tanggal lahir agar Lolita kembali tersihir.

Bara mengambil sebuah buku. Membalikkan halaman-halaman dan mulai menghitung tanggal lahir. Angka dua, hasilnya. Orang-orang lembut, imajinatif, artistik, dan romantis. Lolita tertawa dan mengecup bibir Bara manis-manis. Jumat adalah hari keberuntungan. Bibirnya langsung menempel dan melumat, rasanya tak pernah mau tamat..

Nama Lolita berjumlah tiga puluh: menunjukkan kebijaksanaan, retrospeksi, dan keunggulan mental. Lolita pun kembali tertawa, terpingkal-pingkal. Bara gemas langsung merengkuh tubuh Lolita yang mekal. Lolita mencoba menghindar. Bara memeluk, menindih. Lolita terpejam takluk. Bara melumat hingga bibir terasa pedih. Membiarkannya mendesak, merajam, hingga tubuhnya melesak di mulut pintu kamar.


Tidurlah, kekasihku. Kan kukirim mimpi terindah dengan sejuta mantra yang kudedah.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA