Lolita #3

Tidurlah, kekasihku. Kan kukirim mimpi terindah dengan sejuta mantra yang kudedah.

Lalu Bara menunjukkan Lolita jalan menuju hatinya. Di sana ada sebuah ruang, di mana ia dapat bermain, dan terlelap dengan tenang. “Sudah berapa malam?” tanya Lolita. Ia tak ingin kisah ini redam. Seribu kunang-kunang di Manhattan akan ikut padam tertiup dinginnya malam.

“Mendekatlah, biar kudekap,” Bara menarik tubuh Lolita. “Seharian kau bermain, menari di ruang hati. Kan kubelai rambutmu dengan dongengan malam. Tentang kisah seorang perempuan yang jatuh hati pada lelaki rumah bunga.” Suara Bara terdengar lembut di telinga.

Bara pun mulai berkisah.

“Seorang perempuan jatuh hati, saat pertama kali melihat rumah lelaki bunga tak berpagar. Di pekarangannya terhampar bunga pagi sore sedang bermekaran. Kau dengar, Lolita?” tanya Bara. “Mereka, bunga-bunga, mengucap selamat datang ketika perempuan bertandang.”

Dan, Lolita pun seolah mendengar.

 

“Tiba-tiba,” sambung Bara. “Dari kanan dan kiri rumah keluar tangan terentang lebar, lantas memeluk tubuh mungil si perempuan. Rasanya lembut dan nyaman.” Bara memberi jeda, menghentikan kisahnya, mengecup kening Lolita sesaat.

 

“Masuklah! Terdengar suara lelaki dari rumah. Mata si perempuan berpendaran, dan senyumannya pun mengembang. Hati-hati ia memberanikan diri, melangkah di terasnya yang bersih. Pasir berjatuhan dari sepatu merah perempuan kenakan.”

“Kau tahu, Lolita?” tanya Bara. “Ini kali ketiga si perempuan bertemu lelaki rumah bunga. Belum cukup lama ia mengenalnya, tapi cukup banyak lelaki menyaksikan, bagaimana ia canggung ketika di hadapannya.” Lolita melirik Bara. Mendapati ada senyum kecil di bibir, seakan ia melihat rona merah jambu si perempuan malu-malu.

“Tapi,” Bara melanjutkan kisah. “Akan terasa tenang bila lelaki sudah memeluknya. Rasanya bahagia, apalagi harum bunga di mana-mana.” Bara gantian melirik Lolita. Angin bertiup pelan. Aroma tubuhnya menyapu tengkuk. Bara merapat pelukan, menjauhkan Lolita dari kedinginan. Hangat. Mereka begitu rapat dan lekat.

“Di kamar tanpa balai-balai,” sambung Bara. “Si perempuan bercerita pada lelaki rumah bunga. Ia berniat membuat lukisan kupu-kupu di tubuh, tapi ia urungkan. Ia ingin si lelaki melukis untuknya, dengan puisi, dengan sebuah nama yang selalu buatnya berhalusinasi.”

“Mereka berbicara dalam jarak dekat. Mereka berbagi cerita sambil bercanda, juga diselingi kecupan mesra. Mereka saling menggenapi apa mereka rasa, hingga kebingungan memilih kata. Meski sesekali terdiam, mereka bersitatap, berharap setiap menit berlalu tanpa sia-sia. Lalu mereka bercumbu, Lolita,” kata Bara. “Ya mereka juga bercumbu rayu. Sama seperti kita.”

“Jemari lelaki rumah bunga menyusuri punggung perempuan, lantas menemukan putiknya. Tak berapa lama, kain-kain yang menghalangi jatuh di mana-mana. Ia membelai tubuh perempuannya telanjang tanpa benang. Perempuan pasrah. Lidah lelaki merajah. Ia kian gerah saat jemari lelaki bermain-main di atas putiknya yang merekah.”

“Si perempuan membiarkan lelaki merusak segala pertahanan. Bibirnya memberi, lidah pun mencari. Mata perempuan menatap langit-langit ketika tubuh lelaki memasuki tubuhnya yang legit. Ia terpejam. Tangannya menyusuri punggung hingga jauh ke pinggang. Mereka bercinta di bawah buku-buku. Melenguh, merasakan nikmat sungguh-sungguh.”

“Kalau saja bunga pagi sore bicara, pasti akan mencibir mereka berdua. Bercumbu di bawah buku-buku, tak malu ditatap wajah gurat angkuh,” ucap Lolita, memotong kisah. Bara tersenyum, mengecup anak-anak rambut Lolita, Bara melanjutkan kisahnya lagi.

“Ah! Mereka bercinta, bunga pagi sore bersorak. Mereka saling memadu, ucap si wajah gurat angkuh. Bunga pagi sore akhirnya bicara Lolita, bahkan mereka meminta perempuan tak jera untuk selalu mengalir pulang ke muara. Dan, wajah itu, ia tak lagi angkuh, karena perempuan dan lelakinya tlah saling rengkuh, luruh di bawah buku-buku.”

"Lelaki rumah bunga melukiskan nama mereka di tubuh perempuan, dengan sapuan bibir tak rata. Ia dibasuh peluh dari tubuh yang luruh. Ini lukisan belum selesai, bahkan bukan lukisan. Tapi noktah merah, siapapun melihatnya akan berkata: Perempuan itu habis bercinta dengan penuh gairah.”

“Malam ini kisahmu seperti mengajakku bercinta. Pandai kau menyentuh hatiku, Bara. Menyematnya dengan bunga-bunga perindu. Ah! Aku ingin jadi kupu, dan mati dalam kecupan lelaki rumah bungamu,” kata Lolita syahdu.

“Lolita,” bisik Bara, seraya memutar inginnya seperti dadu. “Kau juga punya sayap, tak perlu merayap. Aku selalu rindumu sangat. Bibirku siap kau sengat. Lidahku kan kau lumat dan akan kudengar eranganmu lamat-lamat.”

Malam kian larut. Kisah Bara buat Lolita kalut, ingin berpagut. Mereka pun bergelut, dengan kaki saling merajut. Hingga bersungut, menahan nikmat yang bergelayut. Bersamamu aku ingin hanyut, Bara.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA