Lolita #4

“Aku tak akan pulang lagi.”

“Apa yang salah?” tanya Bara. “Tiap malam kau buatku resah. Berharap lelap dalam cumbu rayumu yang mendesah. Aku gelisah. Apa kau lelah?” tanya Bara lagi.

Sore yang murung. Awan-awan menebal. Langit terlihat sembab. Tak lama air hujan turun ke bumi. Langit menangis. Air matanya terasa sejuk, tak terasa mengisi ceruk. Hujan selalu membawa aroma romantis. Apalagi bunyi tik-toknya selalu buat meringis.

Sudah dua hari Lolita menghindari Bara. Ia tak lagi mendengar suaranya. Berhenti kirim kabar. Menghilang dari kotak percakapan maya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk. “Kemarin aku rapat. Berharap bertemu denganmu, mungkin di jalan. Setengah empat selesai, lalu mampir ke warung kopi.”

Lolita terhenyak. Dari Bara. Rindu seketika menggelegak.

 

"Warung kopi? Itu dekat dariku. Kenapa tidak telepon?”

 

“Aku pikir kamu jauh dari sana,” jawabnya. “Lagi pula kau sedang marah padaku.”

Lolita diam. Bara pun tak menanyakan alasan.

“Ada acara apa di warung kopi?” tanya Lolita, mengalihkan percakapan.

“Ngobrol saja, makan dan minum. Sempat ke toko buku tapi tak ada buku yang bagus.”

“Toko buku?” tanya Lolita kembali.

“Aku berhenti di rak film, memegang dan menimbang sebuah film yang ingin kubeli. Kayaknya bagus, Paris Je T’aime.”

“Hah!” Lolita kaget. “Film itu selalu kupegang tapi tak pernah terbeli kubawa pulang.” Lolita merengut.

“Pantas saja, aku menangkap aromamu di mana-mana. Di toko buku, di setiap sudut, mataku terus mencari.”

Lolita senang ke toko buku. Bersembunyi di antara tumpukkan buku, pelepas suntuk. Berdiri lama di rak film, obat ampuh pengusir jenuh. Lolita masih ingat, matanya tertuju pada film Paris Je T’aime. Tangannya meraih, matanya mengamati. Gambar sepasang kekasih, berciuman mesra di bawah langit biru senja, menjadi sampul film romantis ini. Selalu begitu, berulang kali tanpa pernah membeli.

“Pulanglah. Aku menunggumu.” Bara mengakhiri percakapan.

Hujan berhenti. Lalu lintas menjadi padat. Mobil-mobil tersendat, motor pun berebut tempat. Orang-orang berjalan tergesa di sepanjang trotoar. Langit masih menyisa sedikit tangis ketika Lolita menyebrang, menyatu di antara kemacetan jalan, bergegas masuk ke pertokoan.

Dan, Lolita pun kembali pulang, sambil membawa hati, ketika bunga pagi sore merekah di pagi hari. Di beranda ia intip jendela, tak tampak sesiapa. Ia ketuk pintu, ketika terbuka ia dapati senyuman menawan. Lantas Bara memeluknya, menyambut dirinya penuh rindu.

Rasa rindu begitu penuh, hadir dalam getaran gemuruh, dengan kehangatan menyeluruh. Lolita ingin menyentuh Bara, menyatukan tubuh, hingga segala penghalang runtuh. Tapi ia diam, menunggu bisikkan, menanti ia lekatkan hati, ke tempat paling dalam.

“Lolita, katakan apa yang kau rasa? Jangan buat aku tersiksa. Aku berpeluh seperti menanti bintang jatuh.” Keluh Bara.

“Bagaimana caranya meringkas dua hari tanpa dirimu, menjadi satu paragraf penuh rindu?” tanya Lolita kelu.

Duduk di kursi. Mereka berbagi cerita tanpa basa-basi. Tak ada pembicaraan mengenai hubungan yang merenggang. Seolah tak ada waktu pernah menguap di antara mereka berdua. Lolita perlihatkan film Paris Je T’aime yang ia beli, agar tak seorang pun menyentuhnya lagi.

Cinta bisa tumbuh di mana saja, terutama di kota cinta: Paris !

Paris Je T’aime, film tentang cinta dan Paris . Tentang banyak cinta yang mengiris, menebalkan hati berlapis-lapis. Film dengan 39 aktor dan aktris, 21 sutradara, 18 fragmen cinta, di satu kota . Membawa kita menyelami berbagai bentuk cinta, yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya.

Sesekali Bara menatap mata Lolita, tajam, sembari mengelus bulu halus di tangan. Bara suka menatap matanya lekat, sengaja buat Lolita terpikat. Lalu mereka menyudut ketika kehangatan berkedut-kedut. Mereka saling dekap, kamar pun seketika senyap.

“Cinta bisa tumbuh di mana saja, tidak hanya di satu kota,” bisik Lolita lembut.

Pagi ini begitu indah. Aku terbangun dengan kepala menengadah. Aroma tubuh membuncah, melewati si wajah angkuh yang resah. Bunga pagi sore pun merendah, menyembah.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA