Lolita #5

Di ujung tahun. Laut bergejolak, ombaknya menerjang begitu galak. Tak sekalipun airnya surut. Kerang-kerang bergelimpangan. Kepiting berhamburan. Di jalan menuju pantai, Bara melontarkan pesan, menerbangkannya lewat burung-burung yang berkejaran, meneriakkannya lewat debur ombak yang bersautan.  

“Apakah aku terlambat?” tanya Bara.  

“Selamat tahun baru,” jawab Lolita semangat.  

Tidak begitu terlambat. Lima belas menit lewat tengah malam. Jalanan begitu padat. Ini malam tahun baru. Pesan-pesan singkat pastilah ikut tersendat. Semua orang sibuk berkirim pesan, sibuk mengganti tanggalan.  

Bara tak ingin awal pergantian tahun menjadi sekadar ritual selamatan. Ia ingin mengenang kembali pertemuan. Ia mengajak berbagi.   

“Apa yang sudah kau dapatkan di tahun lalu, dan apa harapanmu di tahun ini?”   

Lolita diam, terhenyak di kegelapan malam. Di belakangnya, keramaian tak juga redam. Bara membiarkan keheningan menyeruak sekian detik, sementara matanya menatap jalanan yang basah oleh hujan rintik. Lalu, ia tak mau menunggu lama lagi.    

“Kamu tidak harus menjawabnya. Dengarkan pengakuanku : aku mengawali tahun lalu dengan sebuah buku, dan mengakhirinya dengan kau berada di hatiku. Aku ingin mengawali tahun ini bersamamu, tetap membuat buku, dan tetap bersamamu.”  

Suaranya terdengar pelan, tenang, seperti merapal doa di tengah malam. Ada kekuatan saat ia menyebutkan harapan-harapan di tahun akan datang. Lolita mendengarnya setengah meradang. Ada haru di hati, karena ia tlah berbagi. Ada senyum di bibir, karena bahagia tlah mengalir.  

“Aku pun tlah menemukan seseorang, dan berharap langgeng di masa datang.”  

“Siapa?” tanya Bara.  

“Lelaki biasa,” jawab Lolita, dengan nafas terbata.  

Hening.  

“Biasa menulis, biasa membaca, dan biasa menulis puisi cinta. Lelaki biasa dengan sejuta rasa yang sungguh luar biasa.”   

“Luar biasa?” tanya Bara lagi.  

“ Iya, luar biasa romantisnya.” Lolita tersenyum.  

“Apa kamu bahagia?”  

“Aku bahagia,” jawab Lolita sendu.  

Cahaya masih berpendaran di langit. Deru motor sesekali melintas, memenuhi semua ruas. Lolita teringat indahnya rumah bunga. Tempat mereka berlaga, mengadu raga, menghapus jelaga di setiap rongga. Lolita melamun, tersenyum sendiri, akan rindunya yang terayun-ayun.  

“Aku bahagia bertemumu, Bara. Aku bahagia tlah menemukan rumah bunga. Pulang ke sana selalu buat hatiku senang. Selalu ada pelukan, memberiku kehangatan panjang.”  

Seperti Hanna bertemu Michael, Lolita bertemu Bara. Seperti Michael membacakan cerita untuk Hanna sebelum mereka bercinta. Bara pun menyimpan segudang kotak cerita yang entah ia sembunyikan di mana. Duduk saja manis-manis. Ia akan mengeluarkan satu, biasanya cerita lucu-lucu. Bara pun pandai bercerita liris, selalu terdengar begitu manis. Tiap kali ia bercerita, Lolita termangu dibuatnya. Seperti kena guna-guna, Lolita pun terpana. Sebuah kecupan menutup cerita, lantas mereka pun bercinta.    

Bara tersenyum. Dingin malam menyapu tubuh. Udaranya segar. Gemericik air sungai di kejauhan. Hamparan padi terlihat di kegelapan malam. Bara menatap langit; indah, tak kena polusi cahaya seperti Jakarta . Ada bahagia di hatinya.  

“Ini bukan Jakarta , bintang begitu jelita, bekerlap-kerlip riuh seolah akan jatuh. Ingin kupetik, menjadikannya pemantik, agar cahayanya gemerlap seperti matamu yang cantik.”   

Mereka pun berbalas puisi.  

“Ini Jakarta. Tak berangin, juga tak ada hujan turun. Kenapa aku merindukanmu? Bulir rindu mengalir di tiap titik nadi. Bayangmu berlari mencuri sekejap memori, melintas berkali-kali.”  

“Ini lebih buruk dari Jakarta . Jauh darimu jelita, menahan rindu dengan terbata.”  

Malam kian larut. Bara kembali buat Lolita hanyut. Jantung berdenyut. Rindu pun bergelayut.

“Berjalanlah di sisiku tanpa pernah surut, itulah harapanku di tahun mendatang. Selamat tahun baru, kita sudah sama-sama berbagi bahagia dan haru.”  

“Menit-menit pertama di tahun baru, aku mendengar suaramu. Itu akan tetap menjadi harapan setiap waktu, bersama doa-doamu untukku.”*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA