Lolita #6

Hari-hari belakangan Bara mulai mencatat kenangan. Nadanya liris, tanpa maksud membuat hati teriris. “Aku akan menjadikannya cermin. Tempat aku bisa melihat diriku pada dirimu. Dua sosok yang berbeda kelamin.”

Lolita teringat pada khayalan lama: seorang lelaki menulis untuknya, dan tak berharap menjadikannya doa yang bergema.

“Aku hanya ingin mencatat kehangatan bersamamu. Aku suka caramu mengenang. Selama ini aku hanya merekamnya dalam ingatan, merasakannya. Kini, aku jadi pencatat, dan cermin ini akan jadi prasastinya,” ucap Bara.

Akhirnya cermin itu diletakkan di dinding kamar, meski belum sempurna benar. Bara menarik tangan Lolita, membawanya ke hadapan cermin.

“Aku takut,” ucap Lolita kelu.

“Bacalah perlahan.”

Pada cermin di dinding kamar. Lolita melihat Bara mendongeng untuknya. Tentang seorang perempuan yang mencium bunga kupu-kupu, dan sekejap saja ia sudah terbang bersama kekasihnya bagai debu.

Lolita melihat Bara berlari dari rindu yang menerjang. Ia naik ke atap gedung yang kotor. “Jangan lompat,” teriak Lolita dalam cermin. “Aku belum belajar menulis obituary.” “Obituari hanya untuk orang yang mati suri, yang jasadnya terpendam tapi jiwanya menari,” kata Bara dalam cermin, “tapi jiwaku terus menari di hatimu, jasadku sudah luruh di tubuhmu.”

Lolita melihat Bara bermimpi. Ia bercinta dengan gairah, dengan kehangatan, dengan tawa yang sesekali menyeruak di dinding kamar. Kemudian ia terbangun dengan rasa kehilangan, “Kaukah itu Lolita?”

Pada cermin di dinding kamar. Lolita melihat tubuhnya merebah lelah usai bercinta. Bara mengusap anak-anak rambut, bercerita tentang apa saja. Lolita menjadi begitu perempuan sekali di hadapan lelakinya, yang tengah mencinta.

Lolita melihat jemari Bara mengusap bulu-bulu halus di tangan, membangkitkan angan. Lolita menciumnya penuh manja. Lalu mereka kembali menyatu dalam pelukan sayang, meresapkan energi yin dan yang.

Lolita melihat air mengalir di sela lekuk tubuhnya, dan sekejap saja menggigil. Mereka kembali berpelukan. Bibir mereka kembali bertautan. Desahan kembali bersautan. Air ini dingin, dalam sekejap mereka kembali hempaskan rasa ingin.

Usai menyapu cermin, Lolita menyambar tissue. Bergegas ke kamar mandi. Air matanya jatuh satu-satu, ia menangis tersedu. Hatinya berantakan. Ada indah di hati, ada haru menyelimuti.

“Biarkan ia jadi prasasti, kau bisa mematut jika merasa pasti,” Bara menenangkan.

“Aku tak cukup mampu menjadi gelasmu, tak kuat menampung segala rasamu.”

“Kenapa tak kau biarkan tertampung? Teguklah turun ke hatimu hingga mengapung.”

“Aku sedih membacanya.”

“Jangan menangis. Aku mungkin berlebihan. Kau tlah buat hatiku patah, dan memberikannya untukmu. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa terharu dan tertawa. Aku menemukan getar-getar itu lagi. Kau buat hidupku penuh arti.”

Lolita membiarkan waktu berhenti. Cermin itu tak disentuhnya lagi. Malam tlah turun. Tanpa bosan Bara mengecup kening, mendekap tubuh Lolita, hingga terlelap dalam malam yang pekat dan dingin.

Esoknya Bara bangun lebih pagi, dan mencium Lolita berkali-kali. Terhenyak, Lolita pun terbangun, dan kembali menatap cermin di dinding kamar.

… … … … …

Ini ruang kami: aku dan dia. Kami bisa bercengkerama di sebuah ruangan penuh dengan rona. Kami bisa melihat sosok kami di mana-mana.

Ketika kami menebarkan pandangan, yang ada hanyalah bayangan kami yang berserakan. Suatu saat aku akan menghadap sebuah cermin dan dia di depan cermin lainnya. Tetap saja kami akan bersama, dalam diam atau bersuara. Bisa berjauhan, atau bersisian. Terlihat maya, tapi begitu nyata. Kami bisa jadi kanak-kanak yang manja, remaja yang jatuh cinta, pasangan yang bercinta tanpa jeda, atau kakek-nenek yang mencoba mengingat masa muda.

Dari balik cermin, kami bisa memandang hamparan bunga yang bergoyang diterpa angin, pernak-pernik yang bergelatakan di lantai-lantai yang dingin, sosok-sosok yang berkelabat untuk memenuhi rasa ingin. Semuanya jadi mungkin, tergantung di mana kami meletakkan cermin. Sebab, kami akan membawa cermin ini ke manapun kami pergi. Sebab, kami akan menahan mimpi ini sampai pagi. Ia ada dalam genggaman. Ia ada dalam kenangan.

Itulah kenapa kami menyukai cermin. Dan cermin ini akan kami jaga agar tak retak, meski keberadaan kami kelak hanya tinggal jejak.

Pada cermin di dinding kamar: aku melihatmu, aku melihat diriku sendiri.*

 

Comments 

 
# mayssari 2011-02-08 02:32
Hm... aroma prosa bertebaran di sudut-sudut lensa...
Aha! aku menyukainya!
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# mayssari 2011-02-08 02:33
hm... aroma prosa menyeruak di antara sudut-sudut lensa...
aha! Aku menyukainya!
Reply | Reply with quote | Quote
 
Dokumentasi
Powered by mod LCA