Lolita #7

BARA menemukan sebuah iklan. “Terima membuat puisi. Hubungi penyair di alamat ini.” Dan, sebuah alamat tercantumkan. Ia hafalkan dalam sekali kejap. Langkahnya langsung berderap.

Bara memesan puisi, untuk perempuannya: Lolita.

“Ceritakan dulu tentang kekasihmu,” pinta si penyair. “Kisah kalian, bagaimana kalian bertemu, dan kenapa kau jatuh cinta padanya. Ini bahan mentah untukku bekerja, membuatkan puisi pesananmu.”

“Dia cantik, menyenangkan, dan menawan. Itulah yang buatku jatuh cinta,” jawab Bara tanpa terbata. “Kami berjumpa di dunia maya, belajar mengeja, lalu bercinta.”

“Tampaknya aku sudah mendapatkan bahan-bahan yang kubutuhkan. Tunggulah sebentar.”

Bara menunggu.

“Baiklah ini puisi pesananmu.” Si penyair menyerahkan kertas kosong bersih tak bertinta.

Bara terhenyak. Kertas kosong?

“Bagaimana aku membacakan puisi ini di depannya?”

Di tempat lain Lolita tengah menyiapkan sebuah kejutan untuk Bara.

 

SEDARI pagi hujan membasahi tanah. Hari ini Lolita berjanji pulang ke rumah. Bara bangun lalu berbenah. Ia begitu sibuk, meski kepala sedikit berat karena semalam mabuk. Seorang perempuan muda dengan baju oranye tanpa kerah, memasuki teras dengan senyum merekah.

Bara langsung menyambut. Memeluk, mencium, melumat, meresapi suara perempuannya yang lembut. Meredakan gemuruh di jantung yang ribut. Ada rasa rindu yang meradang, rasanya sudah lama sekali Lolita tak datang.

“Senang melihatmu.”

“Ajari aku semanis kamu.” Bisik Lolita di telinga Bara.

Lolita membuka keranjang. Mengeluarkan kejutan. Bara terpaku.

Tiga jeruk. Bara tersuruk.

Dua mangkuk cookies. Bara meringis.

Sebuah film musik. Bara mulai terusik.

Lalu Lolita menyerahkan sebuah kotak warna merah. Bara membuka kotak itu, dan sekejap saja ia bisa melihat isinya satu-satu.

Uang emas, dan batangan emas. Bara melihatnya dengan hati gemas.

Kue keranjang, dan petasan. Aha! Petasan itu hanyalah miniatur dari plastik dengan permen coklat di dalamnya.

“Kau ingin melamarku, Lolita?”

Lolita tertawa. Indah. Senyumannya begitu menggugah.

Seketika bibir Bara menyerbu. Tangannya meremas tanpa ragu. Lolita melekatkan dagu. Menahan geli yang datang menggebu. Lolita mendesah. Menahan tubuh yang mulai goyah.

Semua menjadi begitu dahaga.

“Tubuhmu hangat.”

“Biar kau tak kedinginan.”

Dan Bara menghangatkan sekali lagi. Kekasihnya merintih, lirih. Mengaduh, sampai gaduh.

“Aku terima lamaranmu.” Bisik Bara dalam tubuh yang tlah memburu. Menyapu tubuh Lolita yang sudah berpeluh. Hingga berlabuh.

 

“TAK ada puisi pesanan buatmu. Kekasihmu, Lolita, sudah berkata. Untuknya, kau adalah deretan kata yang panjang, kalimat yang menyenangkan, paragraf yang membahagiakan.”

Bara mendengarkan.

“Semua tlah membuatnya merasa penuh. Mana mungkin aku membuat pesanan puisi untuk kekasihmu. Sebab, baginya, kau adalah puisi rindu itu sendiri.”

Bara mengambil kertas kosong yang bersih tak bertinta. Ia pergi, meninggalkan si pembuat puisi. Tanpa puisi. Bara sudah menciptakan puisi.

Ia puisi itu sendiri.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA