Lolita #8

“Kamu seperti hujan, Bara. Sepagi tadi tik-tok-nya buatku gelisah. Resah dengan apa yang selalu kamu cipta. Andai saja aku mampu raup semua?"

Lolita sudah berdiri di teras, di sisi bunga-bunga yang terguyur hujan deras. Bara membuka pintu. Lolita pun menuju. Mereka langsung berpelukan, berciuman dengan kaki-kaki saling menekan.

“Kau buatku selalu rindu.”

“Kau pun selalu indah, Lolita.”

Singkat, tapi begitu melekat. Mereka kembali berpelukan, melumatkan bibir dan lidah yang berdesakan. Lalu, seperti biasa Lolita memainkan alis mata Bara, menyapukan kecupan dengan merata.

“Rindu pada deretan kata yang panjang, pada kalimat yang menyenangkan.”

“Padamu, Bara, paragraf yang membahagiakan.” Lolita melontarkan kata-kata rindu, terdengar  begitu syahdu.

Bara tersenyum. “Mana romanmu?”

Lolita menyerahkan lembaran cerita roman.

Sambil membaca, Bara meletakkan kedua telapak kakinya tepat di atas kaki Lolita. Ia biarkan kekasihnya berbuat begitu. Ini kali pertama Lolita melihat Bara membaca. Sesekali mata Lolita melirik, pada pemandangan yang menarik.

Perlahan Lolita menarik kaki dari tangkupan kaki lelakinya yang menggelitik. Bara bergerak. Tak memberinya ruang gerak. Gemas, dan mengaitkan kaki lekas, hingga Lolita berteriak keras. Dan, matanya tak juga beranjak dari lembaran cerita roman.

Lolita melemparkan senyuman manis. Bara meringis. Mereka lalu bertukar pandang, berbagi rindu yang meradang. Ikatan kaki pun meregang, melepaskan pegangan. Bara beranjak, mengajak. Lantas menarik tubuh kekasihnya hingga mendekat, dan kian dekat. Sejurus kemudian bibir mereka saling melumat.

“Ajari aku mengeja,” bisik Lolita manja.

“Akan kuajari di atas tubuhku.”

Di luar hujan dan kian deras. Airnya menampias

Bara menarik tubuh Lolita utuh ke atas tubuhnya yang kukuh, dan mengeja larik-larik roman kekasihnya satu-satu. Semenit saja mereka basah-kuyup, ada tangan-tangan yang tak berhenti menyusup.

Bara terus meniti, meresapkan kehangatan sampai ke hati. Dan dalam hitungan detik, jemari Bara mengoyak setiap lekuk tubuh kesana-kemari. Terus mencari, lalu memberi. Terus mengusap, hingga lesap. Kian mendesak, hingga berdecak.

Ada suara yang berkelindan dengan desah hujan.

“Aku suka membaca romanmu.”

“Aku suka pada lelaki yang membaca roman itu.”

Dan, mereka tlah sama-sama membangun sebuah tempat. Di mana hanya ada kisah roman yang mengikuti mereka berdua. Sebab mereka tlah menjadi tokoh-tokohnya, dalam roman yang mereka buat sendiri tanpa bergegas mengakhiri kisah, terus membuat pembaca resah.

Begitu juga kisah mereka, yang tlah dihidupkan oleh jalinan kata-kata.

“Kau seperti desiran angin yang menghantarkan hujan, Lolita. Desiran yang memasuki celah-celah rumah, menyelinap di setiap tarikan nafasku bagai remah-remah.”*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA