Lolita #9

SUDAH hampir tengah malam.

Aku datang bersama angin. Kubuka pintu, gagangnya terasa dingin. Bersijingkat. Berharap kamu tak dengar, tapi tetap bisa terdengar. Sebab aku membisikkan sebuah nama. Selamat ulang tahun, Bara. Lolita mengirim pesan singkat.

“Kamu kan kutahan, kan kupeluk sampai pagi, bersama merayakan kemudahanku. Terima kasih, Lolita,” balas Bara.

Senyap. Dan, pagi pun merayap.

 

TIGA batang lilin berwarna biru. Seperti yang pernah Bara pinta di hari lalu. Berdiri kompak di atas kue coklat berbentuk kotak. Bara berikan pemantik. Aku pun mulai memantik. Blup! Ada api menari-nari kecil, tapi tak pernah redup.

“Jangan tiup dulu,” sergah Lolita buru-buru.

Lolita bernyanyi. Wajah Bara tersenyum penuh arti. Kekasihnya terus bernyanyi. Mengulang hingga tiga kali.

Happy birthday to you.

Happy birthday to you.

Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you.

Lolita berdiri tepat di sisi. Sambil menatap mata Bara tiada henti.

“Close your eyes and make a wish,” pinta Lolita, setengah berbisik.

Sementara Bara meniup lilinnya satu per satu, diam-diam Lolita memanjatkan doa: untukmu, selalu, mengalir tanpa batas.

“Terima kasih Lolita.” Bara pun memeluk kekasihnya erat-erat.

“Aku mau kamu bahagia.”

“Aku bahagia jika kamu bahagia Lolita,” ucap Bara. “Hari ini indah. Kamu buatku berbahagia.”

Mendengarnya, hati Lolita berdegub tak karuan.

“Kenapa kamu selalu buatku terpesona, Bara?” Lolita tersipu malu. “Selalu buat hatiku berjatuhan.”

“Setiap kali kau pergi, akulah yang memunguti. Hatimu masih ada di sini. Kusimpan dalam ruang hati.”

“Simpan baik-baik. Agar aku bisa mengingat untuk selalu pulang. Tempat di mana hatiku berada,” jawab Lolita sendu.

“Aku takkan menyimpannya. Aku akan menjaganya. Lihat! Hatimu menari-nari, berlompatan di antara buku dan bunga, menyusup di antara tubuhku.”

Lolita mencoba menghentikan waktu. Menghampiri Bara dengan kedua tangan di belakang. Bara merengkuh, seperti hati Lolita yang t’lah luruh.

Tangan kiri Lolita mulai memeluk pinggang. Meletakkan wajahnya di bahu. Melekat mesra tanpa ragu.

Tak sabar lagi menunggu. Tangan kanan Lolita pun bergerak menuju. Ada yang berhenti tepat di bawah dagu. Bara pun diam tergugu.

“Selamat ulang tahun,” bisik Lolita, sekali lagi.

Ada seratus gitar terikat pita merah jadi satu.

 

HUJAN menyelinap. Begitu dingin. Menebarkan rasa ingin. Hasrat menyusup dalam putik-putik bunga yang menguncup, karena embun pagi tak jua mengecup.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA