Lolita #16

Lolita,

Aku ingat dirimu, juga melihat dalam diriku sendiri. Beginikah rasanya sepi? Sunyi. Tak bisa lagi bercengkerama atau tertawa.

Aku ingat pada suatu siang yang terik. Kau merebahkan badan, bercerita tanpa sedu sedan. Tapi kulihat raut mukamu menegang, menghentikan tarikan nafaku yang panjang.

Aku hanya bisa terpaku di sisimu, menatap matamu yang semu. Mungkin tak seharusnya aku bertanya padamu: kenapa kau mau menghabiskan malam-malam yang hening bersamaku.

Pertanyaan itu sudah bergelayut dalam benak sejak aku mengenalmu. Kadang aku ragu untuk menemanimu: terlalu indah, mungkin hatiku takkan bisa menjadi wadah.

Pernah sekali kubertanya padamu, di awal-awal kebersamaan kita, tapi kau tak mau aku langgar wilayahmu. Hingga pernah kita berjarak. Rusak. Lalu kita membenahi kaca yang retak.

Ketika cermin itu kembali utuh, kita tak bisa lagi menyentuhnya.

 

Lolita #15

Bara menyeduh kopi, menikmati koran pagi. Sampai siang Lolita tak memberi kabar. Bara rindu, ingin mendengar suara dan tawa kekasihnya yang merdu.

“Kamu lagi, apa?”

Tak ada sahutan.

“Lolita…”

Sosok menawan itu pun muncul.

“Tadi aku membaca cermin lagi, dan rasanya masih sama; indah tapi aku melihat menara air mata di sana,” ujar Lolita gundah.

 

 

Lolita #14

Lolita membaca koran. Ia melihat kolom kontak jodoh. Lalu menarik tangan Bara, mengajak kekasihnya melihat daftar.

“Aku carikan kamu pendamping hidup, ya?” ucap Lolita, sambil mencium kekasihnya.

Entah kenapa Lolita jadi ingin Bara ikut kontak jodoh. Lantas segera menyiapkan profil. Bara hanya tersenyum melihat ulah kekasihnya.

“Kamu ingin wanita yang seperti apa?” tanya Lolita.

Bara terdiam. Berpikir untuk sebuah jawaban.

“Aku ingin semua yang ada padamu,” jawab Bara.

 

Lolita #13

Lolita bercerita tentang seorang lelaki yang pernah mengajaknya bertemu, lalu patah hati. Lelaki itu muncul lagi, mengajak bertemu lagi.

“Kalau kamu pergi menemuinya, aku juga patah hati,” ucap Bara.

“Tidak akan, sayang.”

“Dia tidak tahu bahwa aku menunggumu 31 tahun lamanya.”

Lolita tersenyum.

“31 tahun kurang satu hari, dan alunan puisi yang membawa aku datang padamu di sini.” Lolita menambahkan.

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA