e Pena | Page-12

Lolita #8

“Kamu seperti hujan, Bara. Sepagi tadi tik-tok-nya buatku gelisah. Resah dengan apa yang selalu kamu cipta. Andai saja aku mampu raup semua?"

Lolita sudah berdiri di teras, di sisi bunga-bunga yang terguyur hujan deras. Bara membuka pintu. Lolita pun menuju. Mereka langsung berpelukan, berciuman dengan kaki-kaki saling menekan.

“Kau buatku selalu rindu.”

“Kau pun selalu indah, Lolita.”

Singkat, tapi begitu melekat. Mereka kembali berpelukan, melumatkan bibir dan lidah yang berdesakan. Lalu, seperti biasa Lolita memainkan alis mata Bara, menyapukan kecupan dengan merata.

“Rindu pada deretan kata yang panjang, pada kalimat yang menyenangkan.”

 

Lolita #7

BARA menemukan sebuah iklan. “Terima membuat puisi. Hubungi penyair di alamat ini.” Dan, sebuah alamat tercantumkan. Ia hafalkan dalam sekali kejap. Langkahnya langsung berderap.

Bara memesan puisi, untuk perempuannya: Lolita.

“Ceritakan dulu tentang kekasihmu,” pinta si penyair. “Kisah kalian, bagaimana kalian bertemu, dan kenapa kau jatuh cinta padanya. Ini bahan mentah untukku bekerja, membuatkan puisi pesananmu.”

“Dia cantik, menyenangkan, dan menawan. Itulah yang buatku jatuh cinta,” jawab Bara tanpa terbata. “Kami berjumpa di dunia maya, belajar mengeja, lalu bercinta.”

“Tampaknya aku sudah mendapatkan bahan-bahan yang kubutuhkan. Tunggulah sebentar.”

Bara menunggu.

 

Lolita #6

Hari-hari belakangan Bara mulai mencatat kenangan. Nadanya liris, tanpa maksud membuat hati teriris. “Aku akan menjadikannya cermin. Tempat aku bisa melihat diriku pada dirimu. Dua sosok yang berbeda kelamin.”

Lolita teringat pada khayalan lama: seorang lelaki menulis untuknya, dan tak berharap menjadikannya doa yang bergema.

“Aku hanya ingin mencatat kehangatan bersamamu. Aku suka caramu mengenang. Selama ini aku hanya merekamnya dalam ingatan, merasakannya. Kini, aku jadi pencatat, dan cermin ini akan jadi prasastinya,” ucap Bara.

Akhirnya cermin itu diletakkan di dinding kamar, meski belum sempurna benar. Bara menarik tangan Lolita, membawanya ke hadapan cermin.

“Aku takut,” ucap Lolita kelu.

“Bacalah perlahan.”

 

Arca Angina #6

“Selamat pagi, Arca. Apa kabar?” Rawi menyapa.

“Baik.”

“Benar?”

“Benar,” jawab Arca, tersenyum, walau terlihat sedikit kaku.

“Tidak ada kabar. Tidak pula membalas pesanku. Aku yakin ada sesuatu yang melukaimu. Kenapa belum juga mau berbagi kisah?”

Arca diam. Hanya bisa menunduk lesu. Terbisu.

 

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA