Arca Angina #2

KAMU yang menarik minatku untuk menyelam lebih dalam. Kamu buatku membuka diri lebih cepat daripada siapa pun. Aku bukan hujan, yang mengenal musim. Aku Elang, yang bergerak dalam terang-gelap, yang mengepak dalam dingin-panas. Akulah Elang, yang mengangenimu tanpa musim, yang mencandaimu tanpa waktu. Ya kamu, Arca! Senja keemasanku. Angin kesabaranku.

“Kenapa cemburu selalu saja menghampiriku?”

“Pergilah, Elang.”

“Kenapa kamu selalu ingin aku pergi?”

Di luar hujan. Titik-titik airnya mulai membasahi kaca jendela. Arca memejamkan mata. Ia tak mau menjawab pertanyaan.

“Kamu sibuk atau di sana tengah hujan, dan kau dipaku pada rintiknya?”

 

 

Arca Angina #1

Hujan lagi. Hujan ke-4 di minggu ini. Dari jendela rumah, langit tampak mulai bersih. Tapi hujan, belum memberi tanda akan pamit.

Sebatang kersen di kanan halaman tampak guyah. Sendiri. Seperti menggigil. Angin baginya mungkin teramat kejam. Berkali-kali ia bergerak. Dan daunnya, selembar, yang agak kuning, jatuh. Melayang sebentar di udara, dibelokkan angin. Berputar arah, mengena tanah. Basah. Terbang lagi, hilang dari mata: nuju nasibnya yang lain.

Seorang perempuan melintas. Menggamit roknya. Bersijingkat. Melewati cekungan-cekungan air. Hilang di tikungan, juga mengikuti nasibnya.

Setiap kali hujan, bahkan yang paling rintik pun, aku selalu begini: membuka jendela, menggeser tirainya, mempermainkan khayal, melamun.

Aku tak pernah tahu, kuasa apa yang bisa mencengkram benakku. Apa bau tanah basah, tiktok air di genteng, atau tempias yang memburamkan jendela, gelegar atau cahaya guruh?

Ah, rasanya bukan itu, tapi kamu. Ya kamu, Arca, perempuan yang selalu datang bersama hujan.

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA