Keka #12

Belakangan ini, dia datang pada saat tak terduga.

Seperti tadi malam, misalnya.

Dia datang kembali masuk dalam mimpi. Suara hadirnya seperti angin berbisik di antara pasir, begitu halus dan tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depanku tanpa permisi.

Dalam mimpi - dia sudah beberapa kali masuk ke dalam mimpiku - dia mengangkat wajahku dan memandangiku utuh.

Seperti seekor capung menukik turun, dia mencium bibirku.

 

Keka #11

Aku menyangka akan berbaring di tempat tidur tanpa memejamkan mata. Hal biasa, terjaga, karena khawatir dan gelisah. Tapi kali ini tidurku begitu manis.

Aku menyambut mimpi.

Dermaga yang tadi siang kita kunjungi kelihatan sangat panjang. Airnya menghitam. Gelap. Ada rasa berat dalam dada dan napasku menjadi sesak. Ada rasa cemas, takut tak bisa meraih ujung dermaga. Apakah itu pertanda beban di hati?

Tiba-tiba, tanpa diduga, rasa rindu datang.

Apakah?

 

Keka #10

Matahari menggantung rendah di ujung dermaga. Seekor burung terbang rendah. Indah. Warnanya mengilap bagai mutiara. Aku memerhatikannya dalam sisa-sisa terakhir cahaya senja. Sementara ia tak pernah berhenti memandangku dari balik lensa.

”Kenangan bersama siapa yang paling indah dari masa lalumu?”

“Tidak ada."

“Tidak ada?”

“Tidak ada,” jawabku tanpa berpikir lama.

 

 

Keka #9

“Bacakan aku satu kisah.”

Ia memberikan sebuah buku dongeng ke tangan Keka.

“Hmm?”

“Ya.”

“Ya, apa?” tanya Keka, sambil tertawa.

“Bacakan aku satu kisah,” pintanya lagi

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA