Di Lengkung Alis Matamu

Kamis siang. Hujan. Perempuan tak tenang, menunggu lelakinya datang. Tak lama, hujan reda. Angin berhembus perlahan. Daun pun tak lagi  riuh bergoyang. Mendung berganti cerah. Hangat.

Akhir bulan Mei dan mereka bertemu untuk yang ketiga kali.

“Apa yang kamu bawa hari ini?” tanya perempuan.

“Coba tebak?”

 

Gula Perindu

“Dan kamu, indah. Seperti biasa, tidak berubah,” ucap si lelaki pada perempuannya.

”Kamu pun masih sama, sederhana. Aku suka,” balas si perempuan tak mau kalah.

Di luar mendung. Langit begitu kelabu. Hujan baru saja usai, tapi tetesannya masih menyisa di etalase kaca sebuah kedai. Hari itu mereka bertemu untuk yang kedua kali, tanpa disutradarai.

Kali ini si perempuan tak lagi malu-malu seperti lalu. Begitu juga si lelaki, terlihat tenang dengan segelas kopi panas dalam genggaman. Harum kopi menguar. Pada sebuah meja bundar mereka duduk saling hadap, begitu akrab.

 

Komidi Putar

Ia datang juga.

Aha! Siapa dia?

Ia seorang lelaki biasa dengan hati yang luar biasa.

Ia datang dengan sekotak penuh kebahagiaan, penuh dengan bunga-bunga harum kerinduan. Ia datang bersama rinai hujan, sambil membawa sebuah harapan: ingin berjumpa dengan perempuannya. Perempuan yang terbuat dari angin kehidupan.

Mereka bertemu. Berjabat tangan di atas lantai yang dingin. Dan seketika, sama-sama menjadi ingin. Ingin menatap. Ingin tertawa. Ingin berbagi kerinduan. Ingin segera memecahkan semuanya dengan kata-kata.

 

Lolita #17

Bara,

Ingatkah ketika hujan turun kian lebat, kita melihatnya dari balik jendela yang setengah terbuka, sambil sesekali bertatap muka?

Lalu aku mengajakmu ke tepian jalan. Aku membuka payung hitam ke arah lantai, tapi tiba-tiba ujungnya terkulai. Nyaris patah dan aku merasa bersalah. Tawa kita pun pecah.

Ketika gemericik air kian membuncah, aku jadi jengah. Kau pun mengalah. Sambil memegang payung, kita pun menyusuri jalan, membuat hujan terbelah.

Tanpa menghiraukan orang-orang bersiutan.

Aku senang sepayung denganmu. Terasa begitu dekat. Kala itu aku ingin menggandeng tanganmu, tapi kalah oleh rasa malu. Kita memang cocok sebagai sepasang remaja yang kasmaran.

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA