Telaga Abadi

Malam semakin muram saat aku menghilang di balik awan. Di bawah temaram lampu-lampu taman, kutemui jejakmu berserakan. Kupungut satu-satu, lantas kususun dalam keranjang pualam. Dibantu cahaya pemantik, aku memetik harum rambutmu yang tertinggal di pucuk-pucuk bunga ilalang.

Langkahku terhenti tepat di depan pintu rumah merah gulali. Dengan keranjang penuh jejak, kuketuk pintu rumahmu sejenak. Angin mengalun ringan, ketukan tak dapat jawaban. Harum manis kembang gula menguar dari keranjang berisi jejak perempuan berparas muram.

Aku berubah menjadi hawa ketika menyelinap lewat kisi-kisi jendela. Kain gorden bergambar permen loly terkesiap, dan kudapati ia tlah terpejam. Bau manis gula memenuhi ruang, ia begitu tentram dalam bayang malam.

Kuamati paras muramnya. Kubelai keningnya.

Kusebut namanya. Kukecup matanya.

Kuraih jemarinya. Kusentuh hatinya.

Aku ingin jadi aru-aru, ucapmu terbangun sendu.

Padahal baru saja hendak kuajak bermain ke tengah hutan, untuk memetik kumbang, dan menjadikannya manisan madu hutan. Lantas, kugenggam tangannya, dan kami pun menghilang bersama bayang-bayang kelam.

Hutan meruap hitam pekat ketika kami melesat bersama guruh yang berkelebat. Tak ada danawa apalagi puaka. Dayah pun lelap usai menyusui batari di tengah jenggala. Sepi, hanya halimun yang menempati. Rimba begitu dingin dalam kabut sunyi.

Kulepaskan tautan ketika kami berhenti di atas telaga. Matanya menatap lekat ketika aku melepas sayap yang terasa likat. Kami bersitatap. Kulit pipi putih. Alis melengkung dalam. Bibir pucat pasi. Mata yang tak pernah terpejam. Benar-benar makhluk muram yang tak pernah karam sekalipun di lautan yang paling dalam.

Tiba-tiba tangannya meraih, aku berlari. Suaranya mengikuti, aku bersembunyi. Matanya mencari, tak kuasa lagi menahan diri. Kusentuh dagunya yang lancip bagai ujung perahu untuk kuletakkan pada bahu. Tubuh kami melekat jadi satu, dan seketika harum pundakku membakar hasratnya penuh-penuh.

Di atas telaga aku menari. Melompat-lompat bak seekor kelinci. Berjingkat kecil, menahan tumit, agar tak jatuh pada permukaan air yang tenang. Menggodanya dengan bersembunyi di balik bayang-bayang pohon rindang. Kecipak ikan berdendang memanggilku turun berenang. Jangan! Nanti kau kedinginan, sergahmu.

Maka jadikan aku abadi, bisikku setengah merayu. Tatapan matanya tak lagi sendu seperti ketika ia meminta jadi aru-aru. Ada kilau cahaya kuning keemasan mengintai dari tatapannya yang tajam. Ada resah, ada gelisah yang merajam. Jadikan aku abadi, pintaku sekali lagi. Aku pun tenggelam dalam telaganya yang abadi.*

 
Dokumentasi
Powered by mod LCA